Namun begitu, Mirae Asset tetap memberikan catatan penting. Mereka mengingatkan bahwa risiko tadi bisa saja membesar. Pemicunya? Kalau konflik geopolitik global terus berlarut dan akhirnya mendongkrak harga energi lebih tinggi lagi. Bayangkan saja, eskalasi konflik yang mengganggu pasokan energi misalnya lewat gangguan di Selat Hormuz bisa jadi guncangan besar buat perekonomian global. Pasar pun bakal makin bergejolak.
Melihat kondisi yang belum pasti ini, Mirae Asset pun merevisi proyeksi makro mereka ke arah yang lebih defensif. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan diperkirakan hanya berkisar di angka 5 persen. Sementara itu, nilai tukar rupiah diprediksi masih akan relatif lemah, dan suku bunga kemungkinan besar bertahan di level tinggi.
Nah, itulah gambaran situasi terkini menurut analis. Kita lihat saja perkembangannya.
Artikel Terkait
Kebakaran SPBE di Bekasi Lukai Tiga Orang dan Rusakkan Puluhan Rumah
Menpar Akui Dampak Konflik Timur Tengah, Kerugian Pariwisata Capai Rp2,04 Triliun
Menpar Genjot Strategi Pivot Pasar Wisata Hadapi Tekanan Global
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas dalam Plastik, Pesan Tolong Dimakamkan Anakku Syalwa Tertempel