Laporan Ungkap Potensi Agribisnis sebagai Motor Ekonomi Indonesia Menuju 2045

- Kamis, 02 April 2026 | 00:15 WIB
Laporan Ungkap Potensi Agribisnis sebagai Motor Ekonomi Indonesia Menuju 2045

Rabu lalu di Jakarta, suasana ruang pertemuan itu cukup hangat. ASEAN Food & Beverage Alliance (AFBA) bersama Oxford Economics memilih ibukota untuk meluncurkan sebuah laporan penting. Judulnya cukup menggugah: Economic Insights: Unlocking Indonesia's Agri-Food Powerhouse. Dukungan dari Food Industry Asia (FIA) membuat acara ini makin berbobot.

Inti laporan itu jelas: sektor agribisnis punya peran strategis yang luar biasa. Ia bukan cuma soal tanam-menanam, tapi jadi motor penciptaan lapangan kerja, penarik investasi, dan penggerak perdagangan di Indonesia.

Dalam pidatonya, Leonardo A. A. Teguh Sambodo dari Bappenas memaparkan visi besar. Dia bicara soal arah transformasi sektor ini menuju Indonesia Emas 2045.

"Saat ini, fokus kami adalah transformasi struktural. Kami ingin produktivitas pertanian naik, lalu terhubung erat dengan pengembangan agroindustri," kata Leonardo.

Menurutnya, agenda ini didorong oleh praktik berkelanjutan dan kemajuan komunitas. Tujuannya? Mencapai konsep resiliensi nasional yang holistik. Artinya, ketahanan negara tak lagi cuma dilihat dari sisi pertahanan militer, tapi juga dari kemampuan memastikan pangan dan gizi bagi populasi yang terus bertambah.

Transformasi ini sejalan banget dengan agenda RPJMN 2025-2029. Di sana, titik beratnya pada peningkatan nilai tambah agroindustri, penguatan ketahanan pangan, plus pengurangan kemiskinan dan kesenjangan di desa-desa.

Lantas, bagaimana caranya? Leonardo menyebut, upaya itu didorong lewat beberapa hal. Mulai dari reformasi kebijakan, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur dan logistik, hingga penguatan kemitraan antara pemerintah dan swasta.

Acara peluncuran ini sendiri jadi ajang pertemuan yang menarik. Para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan berbagai pemangku kepentingan regional duduk bersama. Mereka berdiskusi tentang satu hal: bagaimana mengoptimalkan sektor agribisnis sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di ASEAN.

Satvinder Singh, Deputi Sekjen ASEAN, menekankan satu kata kunci: kolaborasi. Menurutnya, kerja sama regional sangat penting untuk memperkuat sistem pangan dan rantai pasok di Asia Tenggara.

"Pertanian itu bukan sekadar sektor ekonomi. Ia adalah tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan, dan stabilitas sosial kita," ujar Satvinder.

"ASEAN adalah pasar dinamis dengan 700 juta jiwa. Tugas kita adalah menjaga dan menumbuhkan pasar ini bersama-sama, melalui kerangka kerja yang ada."

Kerangka kerja yang dia maksud, antara lain, ATIGA yang sudah ditingkatkan dan perjanjian ekonomi digital (DEFA).

"Dengan ini, kita menyediakan kepastian hukum dan konektivitas yang dibutuhkan bisnis global untuk berkembang di kawasan," tegasnya.

Dari sisi riset, James Lambert dari Oxford Economics menyoroti besarnya kontribusi sektor ini. Skala agribisnis Indonesia, katanya, sangat substansial dan berfungsi sebagai pilar penopang ekonomi.

"Di tengah perdagangan global yang makin terfragmentasi, membangun ketahanan lewat fondasi domestik dan kepastian regulasi itu krusial," ungkap Lambert.

"Ketidakpastian kebijakan bisa jadi beban nyata bagi investasi dan produktivitas jangka panjang."

Dia juga menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur logistik. Stabilitas kebijakan, menurutnya, kunci untuk menjaga daya saing Indonesia.

Sementara itu, Pham Quang Minh dari Sekretariat ASEAN menegaskan komitmen kawasan. ASEAN berfokus pada resiliensi dan keberlanjutan sektor pangan, salah satunya melalui Rencana Aksi Strategis untuk Pangan, Pertanian, dan Kehutanan (SPA-FAF).

"Kami ingin menciptakan sektor agribisnis yang inklusif dan tangguh. Rantai pasok harus stabil, dan itu kami upayakan lewat inisiatif seperti kerangka kerja Ketahanan Pangan Terintegrasi ASEAN (AIFS) serta rencana aksi lima tahunan kami," tuturnya.

Pembahasan berlangsung cukup intens. Nuansanya terasa, antara optimisme dan kesadaran akan pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Tapi satu hal yang mengemuka: semua sepakat bahwa kekuatan pangan Indonesia adalah masa depannya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar