Rabu lalu di Jakarta, suasana ruang pertemuan itu cukup hangat. ASEAN Food & Beverage Alliance (AFBA) bersama Oxford Economics memilih ibukota untuk meluncurkan sebuah laporan penting. Judulnya cukup menggugah: Economic Insights: Unlocking Indonesia's Agri-Food Powerhouse. Dukungan dari Food Industry Asia (FIA) membuat acara ini makin berbobot.
Inti laporan itu jelas: sektor agribisnis punya peran strategis yang luar biasa. Ia bukan cuma soal tanam-menanam, tapi jadi motor penciptaan lapangan kerja, penarik investasi, dan penggerak perdagangan di Indonesia.
Dalam pidatonya, Leonardo A. A. Teguh Sambodo dari Bappenas memaparkan visi besar. Dia bicara soal arah transformasi sektor ini menuju Indonesia Emas 2045.
"Saat ini, fokus kami adalah transformasi struktural. Kami ingin produktivitas pertanian naik, lalu terhubung erat dengan pengembangan agroindustri," kata Leonardo.
Menurutnya, agenda ini didorong oleh praktik berkelanjutan dan kemajuan komunitas. Tujuannya? Mencapai konsep resiliensi nasional yang holistik. Artinya, ketahanan negara tak lagi cuma dilihat dari sisi pertahanan militer, tapi juga dari kemampuan memastikan pangan dan gizi bagi populasi yang terus bertambah.
Transformasi ini sejalan banget dengan agenda RPJMN 2025-2029. Di sana, titik beratnya pada peningkatan nilai tambah agroindustri, penguatan ketahanan pangan, plus pengurangan kemiskinan dan kesenjangan di desa-desa.
Lantas, bagaimana caranya? Leonardo menyebut, upaya itu didorong lewat beberapa hal. Mulai dari reformasi kebijakan, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur dan logistik, hingga penguatan kemitraan antara pemerintah dan swasta.
Acara peluncuran ini sendiri jadi ajang pertemuan yang menarik. Para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan berbagai pemangku kepentingan regional duduk bersama. Mereka berdiskusi tentang satu hal: bagaimana mengoptimalkan sektor agribisnis sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di ASEAN.
Satvinder Singh, Deputi Sekjen ASEAN, menekankan satu kata kunci: kolaborasi. Menurutnya, kerja sama regional sangat penting untuk memperkuat sistem pangan dan rantai pasok di Asia Tenggara.
"Pertanian itu bukan sekadar sektor ekonomi. Ia adalah tulang punggung sejati bagi ekonomi, ketahanan pangan, dan stabilitas sosial kita," ujar Satvinder.
Artikel Terkait
Ekonom Sarankan Alihkan Subsidi BBM untuk Percepatan Elektrifikasi Hadapi Risiko Geopolitik
Kerangka Manusia Ditemukan di Perkebunan Lereng Muria, Identitas Masih Misterius
Komisi Eropa Salurkan Bantuan Tambahan 2 Juta Euro untuk Krisis Kuba
Komnas HAM Siap Panggil Empat Oknum TNI Tersangka Kasus Penyiraian Andrie Yunus