Ketut menambahkan poin penting. Sebagian besar komoditas strategis kita memang ditopang dari dalam negeri.
"Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya," tuturnya.
Namun begitu, pemerintah mengaku tidak boleh lengah. Prinsip kewaspadaan tetap dipegang, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memasuki musim kemarau.
"Kita optimistis ketahanan pangan terjaga," kata Ketut, "karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan. Mulai dari percepatan tanam sampai bantuan sarana produksi, semua untuk jaga produksi tetap optimal."
Di kesempatan terpisah, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, juga menyuarakan hal serupa. Baginya, kunci utamanya ada di penguatan produksi.
"Produksi kita meningkat. Panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen. Alhasil, stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional," tegas Amran.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan.
"Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir," ujarnya.
Jadi, dengan cadangan pemerintah yang kuat, stok beras yang terjaga, dan proyeksi produksi yang positif sepanjang tahun, pemerintah merasa yakin. Ketahanan pangan nasional dipastikan tetap terjaga, sehingga masyarakat bisa beraktivitas dengan tenang tanpa dibayangi kekurangan.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Apresiasi Transjakarta, Kontribusi Ekonomi Capai Rp73,8 Triliun
Sistem Satu Arah Cipali Picu Macet Parah 3 Km di Pantura Cirebon
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,8 Juta per Gram Setelah Dua Pekan Turun
Analis: Perpanjangan Tenggat AS-Iran Cuma Perpanjang Ketidakpastian, Ancam Inflasi Indonesia