“Lulusannya nggak cuma dapat ilmu,” jelas Hermita.
“Kami juga berikan akses ke kredit konstruksi di BTN, pembinaan untuk kredit UMKM di klaster perumahan, sampai business matching dengan pasar dan pelaku usaha berkualitas di ekosistem kami,” paparnya lebih detail.
Ke depannya, BTN berencana terus memperkuat program ini. Ini bagian dari strategi ‘beyond mortgage’ mereka, yang artinya tidak fokus pada pembiayaan semata, tetapi membangun ekosistem perumahan yang benar-benar terintegrasi. Rencana konkretnya, Batch 25 akan dibuka dan dimulai pada 11 April 2026 mendatang, bertempat di Menara 2 BTN, Jakarta.
Di sisi lain, Prof. Donald Crestofel Lantu, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SBM ITB, menekankan sisi aplikatif program ini. Program yang sudah berjalan satu dekade ini dirancang untuk benar-benar transformatif.
Peserta menjalani proses belajar intensif selama 63 jam tatap muka. Kurikulumnya dibangun di atas empat pilar utama bisnis properti: Model Bisnis & Pasar, Keuangan & Risiko, Proyek & Operasi, serta Regulasi & Hukum. Semua dirancang bersama oleh HFC BTN dan SBM ITB.
Jadi, ceritanya lebih dari sekadar angka dan target. Ini tentang membangun fondasi yang lebih kuat untuk industri properti, dari hulu ke hilir.
Artikel Terkait
Sistem Satu Arah Cipali Picu Macet Parah 3 Km di Pantura Cirebon
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,8 Juta per Gram Setelah Dua Pekan Turun
Analis: Perpanjangan Tenggat AS-Iran Cuma Perpanjang Ketidakpastian, Ancam Inflasi Indonesia
Menteri Pertahanan Pimpin Upacara Pemakaman Juwono Sudarsono di Kalibata