Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, Sabtu lalu, Direktur Commercial Banking BTN Hermita berbicara tentang hal yang menurutnya masih sangat cerah: potensi sektor properti Indonesia. Khususnya di daerah, kebutuhan akan rumah terus meroket. Pemerintah pun dikatakannya memberi dukungan kuat lewat beragam program pembiayaan dan subsidi.
“Rumah itu sektor padat modal,” ujar Hermita.
Dia menjelaskan, hampir 90 persen bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Yang menarik, setiap ada tambahan modal Rp1 triliun yang masuk ke sektor ini, diperkirakan bisa membuka lapangan kerja untuk 8.000 orang. “Dampaknya bagi perekonomian nasional sangat besar,” tambahnya.
Pernyataan ini disampaikannya di sela acara Wisuda Mini MBA in Property Tahun 2026. Menurut Hermita, program tersebut adalah salah satu langkah BTN untuk tak sekadar meningkatkan kualitas perumahan, tapi juga mendorong ekonomi secara lebih luas.
Sejak digulirkan pada 2016, program kolaborasi antara Housing Finance Center (HFC) BTN dan Sekolah Bisnis & Manajemen ITB ini sudah meluluskan 863 alumni. Angkanya cukup signifikan. Sepanjang tahun 2025 saja, kerja sama pembiayaan antara alumni dan BTN telah mencapai nilai Rp35,3 miliar.
BTN sendiri mencatat, mereka berhasil mencetak 71 pengembang baru di tahun tersebut melalui beberapa batch program. Secara keseluruhan, sejak awal hingga 2025, sudah 863 pengembang baru yang lahir dari sini.
Program ini dirancang agar tak cuma teori. Peserta mendapat pembelajaran lengkap plus simulasi nyata untuk jadi pengembang yang kompeten. Bahkan, ada akses khusus yang dibuka untuk mereka.
Artikel Terkait
Sistem Satu Arah Cipali Picu Macet Parah 3 Km di Pantura Cirebon
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,8 Juta per Gram Setelah Dua Pekan Turun
Analis: Perpanjangan Tenggat AS-Iran Cuma Perpanjang Ketidakpastian, Ancam Inflasi Indonesia
Menteri Pertahanan Pimpin Upacara Pemakaman Juwono Sudarsono di Kalibata