Meski dilanda krisis energi yang cukup parah, Filipina ternyata tetap bersikukuh menggelar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Rencananya tak sepenuhnya batal, hanya saja skalanya akan dikecilkan. Fokus utamanya pun bergeser: membahas langsung badai krisis minyak dan gas yang dipicu perang di Timur Tengah.
Sebelum keputusan ini diumumkan, desakan untuk menunda forum tersebut memang cukup kuat. Banyak pihak yang meragukan kapasitas Filipina di tengah situasi sulit. Namun begitu, Presiden Ferdinand Marcos Jr punya argumen lain.
“Kami sudah konsultasi dengan sembilan negara anggota lainnya,” ujar Marcos.
“Pertanyaannya sederhana. Mengingat semua orang sibuk dengan krisis ini, apakah KTT harus ditunda? Justru konsensus yang kami dapat adalah sebaliknya. Sekaranglah saatnya kita mengoordinasikan aksi,” jelasnya.
Jadwalnya sendiri sudah fix. Provinsi Cebu akan menjadi tuan rumah untuk KTT pertama tahun ini, tepatnya pada 7-8 Mei mendatang. Cebu bukan lokasi asing untuk event ASEAN; awal tahun ini mereka juga sudah menyelenggarakan pertemuan para menteri luar negeri dan pariwisata.
Keputusan ini diambil di tengah situasi yang benar-benar genting. Baru pada 24 Maret lalu, Marcos secara resmi menetapkan status darurat energi nasional. Ini adalah pertama kalinya dan satu-satunya sejauh ini di kawasan Asia Tenggara. Situasinya memang kritis.
Asia termasuk kawasan yang paling merasakan dampak gejolak di Timur Tengah, terutama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Fakta ini langsung menyentuh urat nadinya Filipina, yang sebagian besar kebutuhan energinya masih bergantung pada impor dari kawasan konflik tersebut.
Lalu bagaimana dengan KTT ASEAN ke-49 yang rencananya digelar di Manila pada November nanti? Menurut Marcos, pembahasan mengenai itu belum dimulai. KTT kedua ini biasanya lebih ramai, karena menghadirkan para pemimpin mitra dialog seperti Jepang, AS, hingga China dan India.
Sebagai ketua ASEAN tahun ini, Filipina sebenarnya punya agenda yang sangat padat. Mereka dijadwalkan menjadi tuan rumah untuk lebih dari 600 pertemuan sepanjang 2026. Salah satu yang paling dinanti adalah negosiasi Kode Etik di Laut China Selatan antara ASEAN dan China proses yang sudah berjalan alot dan penuh ketegangan.
Jadi, meski listrik mungkin bisa padam, diplomasi Filipina rupanya tetap menyala.
Artikel Terkait
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram
Masjid At Taqwa Bekasi Gunakan Alat Perebah Sapi Rakitan Sendiri untuk Kurban Iduladha
Libur Iduladha, Ancol Dipenuhi Ribuan Wisatawan Sejak Pagi Hari
Restrukturisasi Internal dan Teknologi AI Dorong Penerimaan Negara, Menkeu Optimistis Target Tercapai