Bareskrim Kerahkan Operasi Nataru, Tutup Celah Narkoba di Keramaian

- Senin, 22 Desember 2025 | 17:45 WIB
Bareskrim Kerahkan Operasi Nataru, Tutup Celah Narkoba di Keramaian

Menjelang momen Natal dan Tahun Baru, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersiap menggelar operasi pengawasan ketat. Fokusnya jelas: menutup celah peredaran gelap narkoba yang kerap memanfaatkan keramaian.

Brigjen Eko Hadi Santoso, selaku Dirtipidnarkoba, mengonfirmasi hal ini di Jakarta Selatan, Senin lalu. Menurutnya, seluruh jajaran telah diperintahkan untuk bergerak.

"Kami instruksikan sinergi kumulatif. Polri akan menjalankan operasi Nataru," tegas Eko di hadapan para wartawan.

Razia akan digelar di lokasi-lokasi yang dianggap rawan. Tempat hiburan dan objek wisata jadi sasaran utama. "Kami akan meningkatkan pengawasan dan mitigasi. Ini untuk mengantisipasi kelompok peredaran gelap yang cari kesempatan di event besar," ungkapnya. Tidak ada toleransi. Setiap upaya penyelundupan akan ditindak tegas.

Langkah ini bukan tanpa preseden. Baru-baru ini, Dittipidnarkoba berhasil menggagalkan upaya pengedaran narkotika di festival musik Djakarta Warehouse Project (DWP) 2025 di Bali. Operasi digelar beberapa hari sebelum acara dimulai, mencegah jaringan narkoba memanfaatkan kerumunan.

"Penindakan terhadap bandar di event itu dilakukan sebelum DWP mulai," tutur Eko.

Hasilnya, polisi meringkus 17 tersangka dari enam sindikat berbeda. Salah satunya adalah warga negara asing asal Peru. Mereka yang diamankan adalah:

Sindikat 1: Gusliadi dan Ardi Alfayat.

Sindikat 2: Donna Fabiola, Emir Aulija, Mifrat Salim Baraba, Andrie Juned Rizky, dan Muslim Gerhanto Bunsu.

Sindikat 3: Ali Sergio.

Sindikat 4: Nathalie Putri Octavianus, Abed Nego Ginting, Gada Purba, Sally Augusta Porajouw, Stephen Aldi Wattimena, dan Marco Alejandro Cueva Arce (WN Peru).

Sindikat 5: Ni Ketut Ari Krismayanti dan Tresilya Piga.

Sindikat 6: Ricky Chandra.

Namun begitu, buruan belum usai. Polisi masih memburu tujuh orang lainnya yang sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka adalah RA, TDS, P, MDR, AGF, JHA, dan IS.

Eko menegaskan, operasi ini bersifat menyeluruh. "Upaya kami tidak tebang pilih," pungkasnya. "Dari hulu ke hilir, dari perbatasan hingga kota besar, dari kegiatan terselubung sampai acara masyarakat yang berpotensi tinggi disusupi. Semua akan kami jaga."

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar