Namun begitu, konteks dari "hadiah" ini tak bisa dilepaskan dari ketegangan militer yang baru saja terjadi. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengumumkan bahwa militer mereka telah membunuh Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, dalam sebuah serangan.
Katz dengan tegas mengklaim bahwa Tangsiri adalah otak di balik penanaman ranjau yang berkontribusi pada pemblokiran Selat Hormuz. Klaim ini tentu saja memperkeruh suasana.
Menanggapi hal itu, Trump malah bersikap blak-blakan. Ia menyebut bahwa Iran kini tak lagi memiliki "penebar ranjau". Yang lebih mengejutkan, ia meremehkan pentingnya selat tersebut bagi AS.
"Yang menakjubkan adalah, kita tidak membutuhkan Selat Hormuz. Sama sekali tidak! Kita punya minyak yang sangat banyak. Negara kita tidak terpengaruh oleh ini," kata Trump dengan nada percaya diri.
Pernyataan itu, meski terdengar menggembirakan bagi pasar domestik, justru menyisakan tanda tanya besar. Apakah pembicaraan substansial yang disebut-sebut itu benar-benar akan meredakan ketegangan, atau justru menjadi babak baru dari sebuah konflik yang sudah rumit? Hanya waktu yang bisa menjawab. Untuk sekarang, pasar tetap waspada menatap setiap pergerakan harga di layar monitor.
Artikel Terkait
Herdman Soroti Mentalitas dan Kualitas Baggott sebagai Alasan Pemanggilan ke Timnas
Kelompok Houthi Siap Serang AS dan Israel di Jalur Vital Laut Merah
Analisis LPS: 0,02% Rekening di Atas Rp5 Miliar Kuasai 57,69% Total Simpanan Bank
Kemenkeu Jelaskan Status Kurang Bayar Rp50 Juta dalam Laporan Pajak Menkeu Purbaya