Saham Bakrie Melawan Arus, ENRG dan DEWA Catat Kenaikan Signifikan

- Jumat, 27 Maret 2026 | 11:00 WIB
Saham Bakrie Melawan Arus, ENRG dan DEWA Catat Kenaikan Signifikan

Pasar saham masih terasa suram di akhir pekan ini. Tapi, ada yang menarik perhatian: beberapa saham dari Grup Bakrie justru bergerak naik, mencoba melawan arus pelemahan yang melanda IHSG. Sentimen positif dari sejumlah unit bisnisnya rupanya memberi angin segar di tengah tekanan bearish.

Yang paling mencolok adalah ENRG. Saham emiten migas ini melesat lebih dari 9 persen ke level Rp1.565 per lembar. Kenaikan ini tak lepas dari sentimen harga minyak dunia yang memanas, ditambah kabar baik dari internal perusahaan. Mereka baru saja menemukan cadangan minyak baru di Riau.

Melalui anak usahanya, PT EMP Tunas Energi, ENRG berhasil mengebor sumur eksplorasi Cenako-1 Twin di blok South CPP. Pengeborannya mencapai kedalaman sekitar 754 meter.

“Berdasarkan hasil uji sumur dan analisis per 17 Maret 2026, struktur Cenako diperkirakan punya kandungan minyak di tempat sekitar 15,6 juta barel,” begitu penjelasan manajemen.

Tentu saja, ini baru tahap awal. Perusahaan masih harus bekerja keras mengonversi temuan itu menjadi cadangan yang benar-benar siap dikembangkan secara komersial. Tapi, bagi pasar, berita ini sudah cukup jadi katalis.

Di sisi lain, ada juga DEWA yang kinerjanya bikin terperangah. Saham kontraktor tambang itu naik 3,18 persen, didorong laporan keuangan tahun 2025 yang fantastis. Laba bersihnya melonjak jadi Rp4,3 triliun! Angka itu jauh sekali dari capaian tahun sebelumnya yang cuma Rp55 miliar.

Everson Sugianto, Investment Analyst Stockbit, mencoba menganalisis fenomena ini.

“Lonjakan laba terutama ditopang pengakuan negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources. Ini sifatnya one-off,” jelasnya pada Jumat (27/3).

Intinya, ada keuntungan akuntansi besar dari selisih nilai wajar aset yang dibeli. Nilai itu menutupi kerugian dari beberapa pos lain seperti penghapusan piutang.

Namun begitu, kinerja operasional DEWA sebenarnya juga membaik. Core profit-nya naik signifikan menjadi Rp573 miliar, didorong ekspansi margin dan strategi pengerjaan in-house yang lebih efisien. Ke depan, prospeknya masih cerah dengan proyeksi kenaikan core profit hampir 60 persen di tahun 2026.

Dukungan juga datang dari proyek baru dari PT Kaltim Prima Coal, yang merupakan anak usaha dari sister company-nya, BUMI. Volume kontrak tambahan ini diharapkan memberi suntikan kinerja.

Performa dua saham tadi agaknya memberi sedikit warna pada portofolio Grup Bakrie. Saham BUMI sendiri naik tipis, begitu pula BRMS. Meski begitu, tak semua saham grup itu hijau. Beberapa lainnya masih terperangkap di zona merah.

Kondisi pasar secara keseluruhan memang belum bersahabat. IHSG terkoreksi 0,88 persen ke level 7.101, melanjutkan tren turun yang sudah berlangsung beberapa waktu. Banyak yang menyebut kondisi ini sebagai bear market, setelah indeks anjlok lebih dari 20 persen dari puncaknya. Tekanan dari ketidakpastian global dan arus keluar modal asing masih menjadi momok.

Jadi, meski ada cerah sesaat dari ENRG dan DEWA, suasana hati pasar secara umum masih waspada. Investor tentu perlu bijak membaca setiap peluang dan risikonya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar