Tekanan psikis yang diduga kuat menjadi pemicu keguguran berulang itu. Keluarga melihat betapa Anggi hidup dalam ketakutan. Rasa was-was itu semakin menjadi ketika Fuad mulai menunjukkan sikap mengancam. Keluarga sempat melaporkannya ke polisi karena pelaku kerap membawa senjata tajam, membuat mereka semua merasa tidak aman.
Gambaran keputusasaan pelaku juga terlihat. Sekitar sebulan sebelum pembunuhan, Fuad dikabarkan sempat melukai dirinya sendiri. Ia tak terima ketika Anggi memutuskan untuk berpisah. Aksi nekat itu seolah menjadi pertanda buruk yang akhirnya terwujud.
Kini, Anggi telah pergi. Ia dimakamkan dalam satu liang lahat bersama sang ayah, sebuah keputusan keluarga yang diambil karena keterbatasan lahat. Pemakaman itu menutup sebuah babak, namun meninggalkan banyak tanda tanya dan kesedihan yang mendalam.
Kasus ini masih terus disorot. Rangkaian fakta yang muncul menunjukkan sebuah pola: tragedi ini bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia seperti bom waktu yang akhirnya meledak, didahului oleh konflik panjang dan derita yang dipendam dalam diam. Publik menunggu keadilan, sementara keluarga berusaha melanjutkan hidup dengan kenangan yang menyayat hati.
Artikel Terkait
Menhub Tegaskan Aturan Pembatasan Truk Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Debut Resmi Pelatih John Herdman
Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik
CEO BlackRock Peringatkan AI Berpotensi Perlebar Kesenjangan Kekayaan