Selat Hormuz masih bisa dilalui. Itu pesan utama dari pernyataan resmi Iran yang dirilis media negara pada Minggu lalu. Hanya saja, ada pengecualian: kapal-kapal yang dianggap terkait dengan musuh Iran tak akan diizinkan melintas. Pernyataan ini disampaikan oleh perwakilan Iran untuk badan maritim PBB, Ali Mousavi.
Menurut laporan Reuters Senin (23/3/2026), komentar Mousavi itu muncul dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Xinhua China. Wawancara itu sendiri terjadi sebelum Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancamannya. Trump memberi waktu 48 jam agar selat itu dibuka sepenuhnya, atau AS akan menargetkan pembangkit listrik Iran.
Suasana di kawasan itu memang sudah panas. Ancaman serangan Iran selama perang AS-Israel telah membuat banyak kapal enggan melintas. Padahal, selat sempit ini adalah jalur vital. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewatinya. Gangguan di sini berpotensi memicu guncangan energi yang dampaknya akan terasa secara global.
Di tengah ketegangan ini, Mousavi yang juga menjabat sebagai Duta Besar Iran untuk Inggris, menekankan bahwa Teheran tetap berkomitmen bekerja sama dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO). Tujuannya, meningkatkan keselamatan maritim dan melindungi para pelaut di perairan Teluk.
Artikel Terkait
Lebaran 2026: Ragunan Dibanjiri 72 Ribu Pengunjung di Hari Pertama Libur
Ragunan Dibanjiri 72 Ribu Pengunjung di Hari Pertama Libur Lebaran
Menhub Fokuskan Strategi Antisipasi Lonjakan Arus Balik 2026 di Bakauheni
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 51.015 Penumpang Tiba di Jakarta dalam Sehari