Intinya sederhana: serang kami, dan kami akan balas menghantam semua aset vital kalian di Timur Tengah.
Sebelum ancaman Trump ini meluncur, suasana sebenarnya sudah memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini sudah bersuara lantang. Dia menegaskan militernya siap membalas dengan serangan tanpa batas jika fasilitas energinya kembali diganggu. Pernyataan itu adalah respons atas serangan Israel ke ladang gas raksasa South Pars milik Iran.
Jadi, ancaman Trump tentang pembangkit listrik itu bukan datang di ruang hampa. Ia seperti bensin yang ditumpahkan di bara yang sudah membara. Trump sendiri, dalam ancamannya, tidak merinci pembangkit listrik mana yang akan dihajar duluan. Tapi pesannya terang benderang: buka selat itu, atau kami yang akan bertindak.
Kini, bola ada di lapangan Iran. Dengan waktu 48 jam yang terus menyusut, dunia menunggu. Apakah Selat Hormuz yang vital itu akan dibuka, atau justru kita akan menyaksikan eskalasi yang lebih berbahaya? Satu hal yang pasti: Teheran sudah menunjukkan taringnya, dan mereka tidak bermain-main.
Artikel Terkait
KPK Alihkan Status Tahanan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas ke Rumah
Menteri Luar Negeri Iran Ucapkan Idulfitri dan Apresiasi Dukungan Indonesia, Malaysia, Brunei
Spalletti Geram, Juventus Gagal Penalti Lagi dan Cuma Raih Satu Poin Lawan Sassuolo
Bupati Bone Imbau Warga Alihkan Tabungan ke Emas Antisipasi Inflasi