"Ini situasional. Tergantung kondisi. Kalau melihat ada potensi hujan ekstrem, modifikasi cuaca akan segera dilakukan untuk menurunkan curah hujan sekitar 20 sampai 50 persen," ujarnya lagi.
Di sisi lain, tak semua daerah justru dikurangi hujannya. Di Riau, misalnya, operasi yang sama justru dilakukan untuk menambah curah hujan. Logikanya sederhana: dengan meningkatkan hujan, risiko kebakaran hutan dan lahan di provinsi itu bisa ditekan.
Faisal juga memberikan peringatan terkait pola musim tahun ini. Ia menyebut bahwa musim kering diprediksi akan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dibanding tahun lalu. "Secara umum, 2026 akan lebih kering daripada 2025," katanya.
Kondisi itu, lanjutnya, tentu butuh kewaspadaan ekstra. Bukan cuma soal kekeringan dan ancaman karhutla, tapi juga dampaknya pada kesehatan masyarakat. "Ini juga jadi upaya kita untuk menjaga swasembada pangan di Indonesia," tutup Faisal.
Artikel Terkait
93% Pekerja Samsung Setuju Mogok, Pasokan Chip Global Terancam
Perempuan Tewas dalam Kebakaran Gudang di Kulonprogo Saat Keluarga Salat Id
Banjir Rendam Permukiman di Pekayon Saat Idulfitri, Warga Mengungsi
Menteri Keuangan Purbaya Kaji Cara Hidupkan Kembali E-Commerce Lokal