Di sisi lain, langkah ini punya tujuan ganda. Selain untuk melindungi rupiah dari gejolak eksternal, BI juga ingin memastikan inflasi tetap terkendali. Sasaran inflasi jangka menengah, yaitu 2,5 persen plus minus satu persen untuk 2026-2027, harus tetap terjaga.
Namun begitu, Perry menegaskan bahwa BI tidak akan tinggal diam. Bank sentral siap mengoptimalkan semua instrumen kebijakan moneter yang ada. Tujuannya jelas: membangun ketahanan terhadap dampak eskalasi konflik Timur Tengah. "Langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan" akan diambil jika situasi mendesak, demi stabilitas perekonomian nasional.
Tak lupa, aspek makroprudensial juga terus diperkuat. Kebijakan di bidang ini diarahkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, salah satunya lewat peningkatan kredit ke sektor riil. Tapi, stabilitas sistem keuangan tetap jadi prioritas yang tidak boleh dikorbankan.
Jadi, intinya BI memilih untuk berhati-hati. Mereka mengamati, menunggu, dan bersiap. Semua dilakukan sambil memandang jauh ke depan, mengantisipasi badai yang mungkin datang dari arena geopolitik global.
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal
Pemerintah Cairkan Bonus Atlet ASEAN Para Games 2025, Emas Perorangan Dapat Rp1 Miliar
Polres Tasikmalaya Siapkan Rest Area Terpadu dengan Klinik dan Wahana Anak untuk Pemudik
Pemudik Bisa Pantau Kondisi Jalan Tol dan Non-Tol Secara Langsung via CCTV Pemerintah