Dampak perang ini, sayangnya, kemungkinan akan berlangsung lama. Jalan damai belum kelihatan. Artinya, situasi yang serba tidak pasti ini harus kita hadapi bahkan setelah Lebaran usai. Pemerintah perlu antisipasi dengan sangat cermat.
Pasca Lebaran, isu ketahanan pangan bakal jadi sorotan utama. Penutupan Selat Hormuz ini berbahaya karena lokasinya dikelilingi negara-negara pengekspor pupuk nitrogen utama, seperti Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pupuk jenis ini, yang bahan bakunya gas alam, vital untuk tanaman pangan yang menyuplai hampir separuh kebutuhan pangan global.
Kalau krisis di Timur Tengah berlarut, kenaikan harga pangan dunia hampir pasti terjadi. Pemerintah harus punya langkah mitigasi yang konkret agar program ketahanan pangan nasional tidak terganggu. Apalagi, beberapa komoditas kunci seperti gandum, kedelai, dan gula masih sangat bergantung pada impor.
Sebenarnya, kondisi fiskal kita sebelum perang saja sudah berat. Defisit anggaran diperkirakan melebar dan mendekati batas aman 3%. Rating fiskal juga menunjukkan tanda-tanda tekanan. Karena itu, pemerintah sama sekali tak boleh main-main dalam mengelola keuangan negara.
Pilihan yang ada mungkin tidak banyak. Efisiensi APBN harus jadi prioritas. Anggaran perlu difokuskan pada program yang langsung menyentuh pelayanan dasar masyarakat. Sementara itu, pemborosan dan kebocoran anggaran harus dipangkas habis. Kegiatan seremonial dan perjalanan dinas yang tidak mendesak perlu dikurangi drastis. Konsep work from anywhere di lingkungan pemerintah juga harus lebih dioptimalkan, bukan sekadar wacana.
Langkah yang lebih berani juga bisa dipertimbangkan. Misalnya, pemotongan gaji dan tunjangan para pejabat tinggi negara. Ini bisa menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam berhemat. Akan lebih powerful lagi jika langkah ini dimulai dari atas: presiden, wakil presiden, anggota DPR dan DPD, para menteri, hingga pejabat eselon I dan II.
Kebijakan semacam ini bukan cuma soal menghemat anggaran. Lebih dari itu, ini bisa membangkitkan semangat solidaritas nasional. Di tengah ketidakpastian global yang mencekam, gotong royong antara pemerintah dan rakyat adalah kekuatan yang kita butuhkan.
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Dikabarkan Dirawat di Rusia Usai Dugaan Serangan
Hashim Minta ASN Junior Diprioritaskan Dapat Rumah Subsidi, Tawarkan Internet Rp100 per Bulan
Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Jadi Pintu Masuk Investasi Industri Teknologi Tinggi
Pemudik Ramai Pilih Berangkat Malam untuk Hindari Panas dan Mokel