Ekonom INDEF: Perang Timur Tengah dan Inflasi Tekan Minat Mudik Lebaran

- Senin, 16 Maret 2026 | 19:20 WIB
Ekonom INDEF: Perang Timur Tengah dan Inflasi Tekan Minat Mudik Lebaran

Hakam Naja, Ekonom INDEF

Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Nuansa sukacita bertemu keluarga sedikit dikabuti oleh berita-berita dari Timur Tengah. Perang antara Iran melawan Israel dan AS masih berkecamuk, dan dampaknya langsung terasa: Selat Hormuz ditutup. Padahal, sebentar lagi kita semua akan menyambut Lebaran 1447 Hijriah.

Arus mudik diprediksi tetap besar, tapi angkanya turun. Kementerian Perhubungan menyebutkan sekitar 146,48 juta orang akan pulang kampung. Itu setara dengan lebih dari separuh penduduk Indonesia. Namun, angka itu ternyata lebih rendah 1,75% dari hasil survei sebelumnya, dan bahkan merosot 6,55% dibanding realitas mudik tahun lalu. Ada apa?

Jawabannya, menurut sejumlah analis, terletak pada kondisi ekonomi. Daya beli masyarakat lagi melemah. Situasi politik global pun penuh ketidakpastian. Faktor-faktor inilah yang diduga menjadi penyebab utama penurunan minat mudik, selain tentu saja alasan sosial-ekonomi lain yang lebih personal.

Kondisi sosial ekonomi itu tercermin nyata dari data inflasi. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulan Februari 2026 naik 0,68%. Padahal bulan sebelumnya, Januari, kita justru mengalami deflasi sebesar 0,15%. Lonjakan ini jelas terasa di kantong.

Pemerintah sudah berjanji harga BBM tak akan naik sampai Lebaran. Persediaan juga diklaim aman. Tapi, pertanyaan besarnya justru muncul setelah hari raya. Akankah harga bertahan, atau justru melesat? Soalnya, subsidi energi di APBN 2026 untuk listrik, elpiji, dan BBM sudah menelan anggaran Rp210,06 triliun. Jika harga minyak dunia terus meroket, tekanan untuk menambah subsidi akan semakin besar.

Dan harga minyak dunia memang sedang tinggi-tingginya. Harga minyak mentah Brent, acuan Indonesian Crude Price, sempat menyentuh level 119,5 dolar AS per barel. Bandingkan dengan asumsi APBN yang cuma di level 70 dolar AS. Selisihnya jauh sekali.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar