Pelantikan anggota Dewan Energi Nasional periode 2026-2030, Selasa (28/1) lalu, ternyata diwarnai arahan khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Hal ini diungkapkan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang kini merangkap sebagai Ketua Harian DEN.
Menurut Bahlil, momen ini menandai babak baru. Tugas-tugas kenegaraan di sektor energi, katanya, akan memasuki fase yang lebih serius. Apalagi, isu energi memang jadi salah satu program prioritas pemerintahan sekarang.
"Kita tahu semua bahwa salah satu program prioritas Bapak Presiden Prabowo adalah menyangkut dengan kedaulatan energi, ketahanan energi, swasembada energi," ujar Bahlil dalam konferensi pers.
"Yang salah satu instrumen negaranya adalah arah kebijakan roadmap yang dibangun bersama-sama dengan DEN," imbuhnya.
Soal komposisi, anggota DEN yang baru ini dipilih DPR dari beragam pemangku kepentingan. Beberapa menteri yang masa jabatannya berlanjut juga tetap duduk di dalamnya. Selama ini, lembaga ini punya catatan kerja, mulai dari menyusun RUEN hingga peta jalan nuklir untuk ketenagalistrikan.
Namun begitu, agenda pertama mereka belum langsung membahas target. Bahlil menegaskan, sidang paripurna perdana justru akan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo. Setelah itu, baru rencana setahun ke depan disampaikan.
Meski demikian, Bahlil sudah menyebut empat fokus yang ditekankan Prabowo. Intinya berkisar pada kedaulatan, ketahanan, kemandirian, dan swasembada energi. Maksudnya, Indonesia diharapkan bisa memenuhi semua kebutuhan energinya sendiri.
"Kita tahu bahwa ketahanan energi kita hanya 21 hari, dan ini kita akan up menjadi 3 bulan, dan ini pasti kita akan membangun storage," ungkap Bahlil.
"Yang berikut adalah kemandirian energi. Kita tahu kita hari ini masih impor BBM kurang lebih sekitar 30 juta lebih kiloliter, baik solar maupun bensin," lanjutnya.
"Dan yang keempat itu adalah swasembada. Pasti kami akan melakukan bertahap dan tujuannya pada akhirnya adalah swasembada."
Badan Nuklir Indonesia Hampir Rampung
Di sisi lain, ada kabar perkembangan soal rencana nuklir. Bahlil menyebut proses pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) di Indonesia sudah hampir selesai.
Hanya saja, pembentukannya masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landasan hukum. Prosesnya masih berjalan, tapi diharapkan cepat rampung.
"Roadmap-nya sudah selesai dan sekarang tahapan sudah mulai membangun untuk bagaimana kita bekerja sama dengan negara mana," jelas Bahlil.
Organisasinya sendiri, menurut dia, juga hampir rampung dibentuk.
Artikel Terkait
SIG Luncurkan Semen Hijau dengan Emisi Karbon 38 Persen Lebih Rendah
ITMG Bagikan Dividen Final Rp992 per Saham untuk Tahun Buku 2025
MDS Retailing Cetak Laba Bersih Rp692 Miliar di Kuartal I-2026, Didorong Lonjakan Penjualan Luar Jawa
Laba Bersih Prodia Melonjak 150 Persen di Kuartal I-2026, Ditopang Permintaan Tes Diagnostik