Untuk memastikan semua berjalan lancar, BMKG tentu tidak tinggal diam. Pemantauan kondisi atmosfer dilakukan secara intensif. Informasi prakiraan cuaca maritim untuk tiga hari ke depan diperbarui tiap jam dan langsung disalurkan ke pihak-pihak terkait di pelabuhan, termasuk Kantor KSOP. Data yang diberikan mencakup banyak hal: suhu udara, kelembapan, arah angin, sampai tinggi gelombang di sekitar Pelabuhan Merak dan Bakauheni.
Meski begitu, Faisal menegaskan satu hal. Kewenangan untuk menghentikan operasi pelayaran sepenuhnya ada di tangan KSOP.
"BMKG bertugas menyuplai informasi, namun kewenangan untuk menghentikan pelayaran saat status mencapai level ‘Awas’ sepenuhnya berada di tangan KSOP," tuturnya.
Soal kesiapan teknis, BMKG mengklaim Banten termasuk wilayah yang didukung infrastruktur observasi cukup lengkap. Mereka punya sejumlah Automatic Weather Station (AWS) Maritim yang ditempatkan di Merak, Ciwandan, dan Bakauheni. Bahkan, alat serupa juga dipasang di beberapa kapal penyeberangan seperti KMP Legundi. Tak ketinggalan, radar maritim di Merak dan Cinangka yang bekerja 24 jam non-stop untuk memantau segala kemungkinan buruk, mulai dari cuaca ekstrem sampai potensi gempa.
Di akhir pesannya, Faisal mengimbau semua pihak, terutama masyarakat, untuk selalu mengupdate informasi.
"BMKG menghimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca, peringatan dini, serta kondisi potensi risiko melalui kanal resmi BMKG agar langkah antisipasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat," pungkasnya.
Artikel Terkait
Antrean Truk Logistik dan Pemudik Mulai Padati Pelabuhan Ciwandan Jelang Lebaran
Bali United Akui Inkonsistensi Usai Dibantai Persis Solo
Telkom dan Kemenkominfo Siagakan 13.200 Petugas Jaga Koneksi Ramadan-Lebaran
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat di Terminal Pulo Gebang