Lalu, apa solusinya? Agus mengusung setidaknya tujuh strategi untuk menguatkan peran OJK. Pertama, regulasi yang lebih visioner, mengacu pada riset dan praktik global. Kedua, pengawasan berbasis risiko dengan memanfaatkan big data dan kecerdasan buatan. Teknologi ini diharapkan bisa memperkuat sistem peringatan dini.
"Dengan big data dan supervisory technology berbasis AI, pengawasan akan lebih efektif dan deteksi risiko bisa dilakukan lebih cepat," ujar Agus.
Strategi ketiga dan keempat berfokus pada perlindungan konsumen, percepatan literasi, serta pengembangan SDM di internal OJK. Selanjutnya, dia menekankan pentingnya infrastruktur kelembagaan yang memadai, termasuk pembangunan kantor pusat. Poin keenam adalah diversifikasi sumber pendanaan agar tidak terus bergantung pada iuran industri.
Sayangnya, waktu pemaparan yang diberikan habis sebelum Agus sempat menjelaskan strategi ketujuhnya. Padahal, usulan-usulan sebelumnya terdengar cukup komprehensif.
Sebagai catatan, Agus Sugiarto bukanlah wajah baru di lingkungan OJK. Saat ini ia menjabat sebagai Komisaris Independen PT Danantara Asset Management, namun sebelumnya pernah bertugas sebagai Advisor dan juga Mantan Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan di lembaga tersebut. Pengalaman itulah yang mungkin membuat analisisnya terasa menyentuh langsung ke akar persoalan.
Artikel Terkait
Tiga IKM Kriya Indonesia Dapat Fasilitasi Tampil di Pameran Bergengsi Hong Kong
Pemerintah Tetapkan Indikator Risiko untuk Batasi Akses Media Sosial Anak
Pemerintah Prioritaskan Penyelesaian Utang KCIC Sebelum Kaji Perpanjangan Kereta Cepat
Commuter Line Merak Berhenti di Cilegon Sementara, Antisipasi Arus Mudik Lebaran