Lalu, apa yang bisa dilakukan? Untuk jangka pendek, Sanny menitikberatkan pada langkah mitigasi yang realistis. Pelaku usaha kini fokus pada penyesuaian struktur biaya, meningkatkan efisiensi operasional, hingga mengelola risiko valuta asing dengan lebih disiplin. Diversifikasi sumber pasokan dan pemanfaatan instrumen lindung nilai juga jadi opsi.
Di sisi lain, Apindo juga mendorong pemerintah untuk bertindak. Mereka ingin stabilitas harga energi dan pangan dijaga, cadangan logistik strategis diperkuat. Kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta dukungan terarah untuk sektor yang terdampak, dinilai sangat krusial.
Sanny juga mengingatkan soal beban subsidi energi. Kalau harga energi tetap tinggi, anggaran untuk subsidi bisa membengkak. Ini berisiko memberi tekanan ekstra pada defisit dan utang negara.
Terakhir, soal diplomasi. Pengusaha berharap pemerintah bisa memitigasi risiko konflik melalui jalur ini. Kabar baiknya, Indonesia dinilai tidak akan terseret ke dalam pusaran konflik geopolitik secara langsung.
Stabilitas politik dan kredibilitas diplomasi, kata Sanny, adalah fondasi penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Pada akhirnya, koordinasi kebijakan yang solid dan terukurlah yang akan menentukan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang serba tak pasti ini.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng Aman, Impor Beras Dibatalkan
Menteri Keuangan: Fondasi Ekonomi Kunci Stabilitas Rupiah
Pemerintah Imbau Warga Tunda Keberangkatan Umrah Imbas Konflik di Timur Tengah
OJK Proyeksikan Kredit UMKM Tumbuh 7-9% pada 2026