Zurich Indonesia punya pendirian yang jelas soal pengelolaan dananya. Di tengah angin segar dari pemerintah yang memperlonggar batas investasi perusahaan asuransi di pasar saham, mereka justru memilih untuk tetap berlabuh di instrumen yang lebih tenang: obligasi negara. Alasannya sederhana tapi tegas, prinsip kehati-hatian.
Kebijakan baru itu sendiri datang dari keputusan pemerintah menaikkan porsi maksimal investasi asuransi dan dana pensiun di Bursa Efek Indonesia, dari semula 8 persen menjadi 20 persen. Langkah ini diambil untuk menguatkan pasar modal dan meningkatkan likuiditas, terutama setelah ada peringatan dari MSCI soal transparansi data pemegang saham.
Namun begitu, bagi Zurich, perubahan aturan tak serta-merta mengubah strategi. Hilman Simanjuntak, Direktur Utama PT Zurich General Tafakul Indonesia, menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah mengelola aset dengan sangat hati-hati, selalu menyesuaikan dengan profil liabilitas perusahaan.
“Jadi pada dasarnya tujuan kami mengelola investasi adalah, bagaimana supaya kami bisa memenuhi kewajiban (klaim) dengan baik. Jadi kami liat profil liabilitasnya dan likuiditas yang dibutuhkan,”
Ujar Hilman dalam sebuah konferensi pers, Senin lalu. Intinya, setiap instrumen investasi yang dipilih harus selaras dengan tujuan utama: mempertahankan solvabilitas perusahaan atau kemampuan membayar klaim.
Dengan logika itu, pilihan jatuh pada surat berharga negara. Lebih aman, lebih predictable. “Kebijakan baru tidak akan mengubah strategi investasi kami,” sambung Hilman. Mereka tetap akan fokus memanfaatkan investasi untuk menjaga solvabilitas dan liabilitas.
Di sisi lain, manajemen risiko juga jadi pertimbangan ekstra. Mayoritas dana Zurich Indonesia memang ditempatkan di SBN, sementara untuk kewajiban keuangan jangka pendek, mereka andalkan deposito. Pola pikir serupa diungkapkan Fred Chan, Direktur PT Zurich Topas Life.
“Kami melihat profil liabilitas jangka panjang... Jadi mayoritas investasi kami ada di SBN dan obligasi korporat,”
ungkap Fred. Produk asuransi jiwa, katanya, adalah komitmen jangka panjang. Maka, cara berinvestasinya pun harus selaras dengan kebijakan investasi tradisional yang penuh pertimbangan, disesuaikan dengan profil risiko tiap entitas.
Celios Ingatkan Perusahaan Asuransi Perlu Waspadai Beberapa Hal di Pasar Saham
Pilihan Zurich ini dipahami betul oleh pengamat. Nailul Huda dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyebut, wajar jika perusahaan asuransi mencari aset terbaik untuk bisnisnya.
“Saya rasa, kalaupun mereka mau ke pasar saham, tentu ada batasan-batasan tertentu seperti hanya boleh di LQ45, transparansinya bagaimana. Semuanya, kan, harus di-approve,”
kata Huda. Dia pun mengingatkan, bagi yang tertarik menambah porsi di saham, harus ekstra waspada. Pasar saham, menurutnya, adalah arena yang kompleks, di mana banyak kepentingan dari politik hingga individu bermain di dalamnya.
Jadi, sementara pintu ke pasar saham dibuka lebih lebar, Zurich Indonesia memilih untuk tidak buru-buru masuk. Mereka lebih memilih jalan yang sudah dikenal, mengutamakan keamanan dana nasabah di atas segala-galanya.
Artikel Terkait
Manchester United Dekati Zona Liga Champions, Carrick Enggan Bicara Kontrak
Polisi Bekuk Empat Begal di Gunung Sahari, Sita Celurit dan Dua Motor
Menkeu Purbaya: Anggaran Kementerian dan Lembaga Dipotong karena Ada Dugaan Penyimpangan
Bank Jago Cetak Laba Rp86 Miliar di Kuartal I-2026, Naik 42 Persen