“Yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing industri emas nasional di pasar global,” tutur Emmy.
Pelaksanaan teknisnya ditangani oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB). Menariknya, program untuk komoditas emas ini disebut-sebut sebagai yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bisa jadi rujukan nasional, lah.
Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba, menyebut program ini terbuka untuk banyak pihak. Baik industri, instansi swasta, maupun pemerintah. Bahkan laboratorium yang belum terakreditasi pun bisa ikut serta.
Manfaatnya beragam. Mulai dari pemenuhan klausul standar internasional, evaluasi kinerja internal laboratorium, hingga memastikan akurasi data. BBSPJIKB sendiri mengundang lebih banyak laboratorium yang bergerak di pengujian emas untuk bergabung.
“Program ini menggunakan skema simultan, yakni objek uji didistribusikan untuk pengujian secara bersamaan dalam periode waktu yang telah ditetapkan,” jelas Zya.
Dengan metode itu, hasil dari tiap laboratorium bisa dibandingkan secara objektif. Lebih terukur, dan yang pasti, transparan.
Harapannya jelas. Dengan sistem pengujian yang makin kuat, industri perhiasan nasional tak cuma bisa mengejar momentum pasar global. Tapi juga perlahan membangun reputasi sebagai produsen perhiasan berkualitas tinggi. Reputasi yang mahal harganya.
Artikel Terkait
Bank bjb Gelar The Ultimate10K Series di Empat Kota untuk Dorong Koneksi Ekonomi
Kecelakaan Beruntun di Tol TB Simatupang, Lalin Tersendat 5 Km
Pemprov DKI Tambah Kuota Mudik Gratis Jadi 30.774 Orang, Siapkan 709 Bus
Menteri Keuangan Peringatkan Pejabat Baru Jaga Integritas di Tengah Kasus Hukum