Konflik yang meluas di Timur Tengah, terutama yang mengancam jalur pelayaran seperti Selat Hormuz, memang sudah terasa dampaknya. Ekspor minyak dan gas tersendat, harga melambung. Buat Bangladesh, efeknya langsung bikin pusing. Kelangkaan gas yang parah sampai memaksa empat dari lima pabrik pupuk pemerintah berhenti beroperasi. Gas yang ada diprioritaskan untuk pembangkit listrik, demi menghindari pemadaman bergilir yang lebih luas.
Jadi, upaya penghematan dilakukan di segala lini. Pemerintah mengeluarkan pedoman ketat untuk kantor dan lembaga agar pakai listrik seperlunya. Pakai cahaya matahari kalau bisa, matikan lampu dan perangkat yang tak dipakai. Semua demi bertahan.
“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengurangi konsumsi dan memastikan stabilitas pasokan listrik, bahan bakar, dan impor,”
Ujar seorang pejabat senior Kementerian Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral, dengan nada prihatin.
Dengan populasi mencapai 170 juta jiwa, tekanan yang dihadapi Bangladesh sungguh berat. Mereka kini terpaksa membeli gas alam cair di pasar spot dengan harga selangit, sambil berburu kargo tambahan untuk menutupi defisit yang ada. Situasinya rumit, dan jalan keluar tak terlihat dalam waktu dekat. Yang jelas, warga dan mahasiswa harus bersabar. Di tengah krisis global ini, kehidupan sehari-hari memang harus beradaptasi.
Artikel Terkait
Kementerian Keuangan Pastikan Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp330 T Tak Dipotong, Pengawasan Diperketat
Warga Bekasi Diingatkan: Imsak Kabupaten 04.31 WIB, Kota 04.32 WIB
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen
Motif Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Istri Siri di Depok