Di sisi lain, temuan ini sejalan dengan sejumlah laporan media global. The Wall Street Journal, mengutip sumber pejabat AS, melaporkan bahwa penyelidik militer sendiri menduga pasukan Amerika yang melakukan serangan. Meski begitu, penyelidikan resmi konon belum rampung.
Sementara itu, analisis terpisah dari The New York Times, menggunakan citra satelit dan video geolokasi, mengungkap fakta lain. Sekolah itu dihantam persis pada waktu yang sama dengan serangan terhadap pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang letaknya bersebelahan. Target sebenarnya diduga adalah markas militer itu, bukan bangunan sekolah.
“Ini kemungkinan besar adalah kesalahan identifikasi target,” kata seorang mantan pejabat Angkatan Udara AS, memberikan penilaiannya atas insiden tersebut.
Laporan dari BBC Verify juga memperkuat narasi ini. Beberapa lokasi di sekitar area terdampak tampak hangus terbakar, termasuk fasilitas IRGC yang berada tak jauh dari kompleks sekolah. Serangan itu diduga meleset dari sasaran utamanya.
Jadi, meski pernyataan resmi masih simpang siur, bukti-bukti yang terungkap mulai menyibak tabir kelam di balik tragedi yang merenggut puluhan nyawa anak-anak perempuan itu.
Artikel Terkait
Stellantis Terbitkan Obligasi Hybrid Rp97,9 Triliun untuk Kuatkan Likuiditas
Persiapan Mudik Lebaran 2026 Dimulai, Keamanan dan Kenyamanan Jadi Prioritas
Putri Akbar Tandjung, Karmia Krissanty, Meninggal Dunia
BGN Peringatkan Koperasi Palsu dan Monopoli Pasok di Program Makan Bergizi Gratis