Meski begitu, satu hal yang mencolok: dia tak punya pengalaman memegang jabatan pemerintahan formal. Tidak pernah duduk di kursi eksekutif atau lembaga terpilih. Ini membuat banyak analis penasaran.
Pengamat luar sering menyebutnya sosok misterius. Pengaruhnya, kata mereka, bekerja dalam diam. Jarang berpidato, hampir tak ada wawancara, manifesto politik pun tidak. Penampilannya cuma sesekali, biasanya di acara resmi negara atau peringatan keagamaan. Penampilan publik terakhirnya adalah di unjuk rasa dukungan untuk pemerintah awal tahun ini.
Ada cerita bahwa di masa muda, dia pernah ikut serta dalam Perang Iran-Irak akhir 80-an. Dia dikabarkan bergabung dengan unit sukarelawan. Beberapa media Barat juga kerap mengaitkannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meski tanpa bukti peran formal di sana.
Kini, dia memimpin di tengah badai. Transisi kekuasaan ini terjadi di bawah ancaman yang terang-terangan, terutama dari Israel.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersuara keras. "Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan itu, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan, tidak peduli namanya atau di mana ia bersembunyi," katanya.
Ancaman itu menggantung di udara. Ia menggarisbawahi satu hal: tekanan terhadap suksesi ini luar biasa besarnya. Mojtaba Khamenei tidak hanya memimpin sebuah negara. Dia berdiri di pusat konfrontasi geopolitik yang jauh melampaui batas-batas Iran.
Artikel Terkait
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen
Motif Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Istri Siri di Depok
Jadwal Imsak dan Salat di Bogor Hari Ini, Imsak Pukul 04.33 WIB
Kepala BPJPH: Sertifikasi Halal AS Lebih Ketat dalam Beberapa Aspek