Menag Targetkan Indonesia Jadi Pusat Studi Al-Quran Dunia

- Senin, 09 Maret 2026 | 08:35 WIB
Menag Targetkan Indonesia Jadi Pusat Studi Al-Quran Dunia

Menteri Agama Nasaruddin Umar punya visi yang jelas: dia ingin Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu tempat utama untuk mempelajari Al-Quran. Impiannya bukan sekadar wacana. Hal ini dia sampaikan dengan tegas dalam sebuah acara yang juga dihadiri oleh pendiri Pusat Studi Al-Quran (PSQ), Quraish Shihab.

Acara bertajuk 'Laporan 2025 & Rencana Kerja 2026: Kiprah Kader Mufasir PSQ Menyebarkan Harmoni di Indonesia' itu jadi momentum. Menag melihat, saatnya Indonesia tampil ke depan. Selama ini, pusat-pusat studi Al-Quran seolah identik dengan kawasan Timur Tengah. Itu yang ingin diubah.

“Saya ingin menekankan pentingnya kita mengemban dan memperkuat status lingkungan PSQ ke depan dengan hati yang penuh ketulusan,” ujar Nasaruddin Umar, Senin (9/3/2026).

“Kita ingin ke depan, Indonesia menjadi salah satu tempat utama untuk belajar Al-Quran.”

“Jadi, pusat studi Al-Quran bukan hanya ada di Timur Tengah, tapi juga ada di Indonesia," tegasnya.

Menurutnya, Indonesia punya modal kuat. Karakter pemahaman Al-Quran di tanah air dikenal moderat dan harmonis. Nilai-nilai itu, di mata Menag, justru jadi aset berharga yang dibutuhkan dunia internasional sekarang. Cahaya Al-Quran dari Indonesia, katanya, harus bisa memancarkan sinar yang lebih terang bagi peradaban global.

Namun begitu, tentu ada tantangan. Keberlangsungan lembaga dan program kaderisasi mufasir membutuhkan dukungan nyata, terutama soal pendanaan. Tapi Menag tampak optimistis. Dia yakin solusi konkret bisa ditemukan, apalagi dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.

“Mumpung Pak Presiden masih bersama kita dan didukung oleh para tokoh-tokoh kita yang lain, saya kira persoalan pendanaan dan keberlanjutan itu insya Allah bisa diselesaikan,” ujar Menag.

Di sisi lain, peran kader mufasir sendiri dinilai krusial. Mereka diharapkan tak hanya mendalami ilmu, tetapi juga aktif menyebarkan pesan-pesan harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Konsistensi dalam membumikan nilai-nilai Al-Quran yang selaras dengan semangat kebangsaan dan persatuan menjadi kunci.

Jadi, langkahnya sudah dirintis. Tinggal bagaimana komitmen kolektif diwujudkan, agar mimpi besar itu tak hanya jadi kata-kata di atas panggung.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar