Pelemahan kurs ini berdampak nyata. Biaya material impor seperti elevator, sistem fasad, atau peralatan HVAC untuk gedung tinggi ikut melambung. Proyek-proyek high-rise jadi lebih rentan ketimbang rumah tapak, karena ketergantungan material impornya lebih besar.
"Hal ini berpotensi menekan margin pengembang atau mendorong penyesuaian harga jual," ujarnya.
Ferry menuturkan, dalam skenario rupiah yang melemah tajam ditambah permintaan yang lesu, pengembang cenderung hati-hati. Peluncuran proyek baru bisa ditunda. Fokus biasanya beralih ke menjual stok yang ada dan menyesuaikan spesifikasi untuk tekan biaya.
Namun begitu, proyek yang sudah jalan biasanya tetap dilanjutkan. Tujuannya untuk menjaga arus kas dan kredibilitas perusahaan.
Di sisi lain, properti sangat digerakkan oleh persepsi. Dalam suasana tidak pasti, pasar cenderung masuk fase wait-and-see. Semua pihak menahan napas, menunggu kejelasan arah angin.
"Investor menunda ekspansi, sementara konsumen menunda pembelian," pungkas Ferry.
Jadi, meski dampaknya tak langsung terasa, gelombang ketegangan dari Timur Tengah itu tetap sampai ke sini. Ia merambat pelan lewat jalur-jalur ekonomi yang rumit, dan akhirnya menyentuh salah satu sektor paling vital di negeri ini.
Artikel Terkait
DPR Tetapkan Lima Komisioner OJK Periode 2026-2031, Friederica Widyasari Kembali Pimpin
Pemerintah Siapkan 10 Ruas Tol Fungsional untuk Antisipasi Kemacetan Mudik Lebaran 2026
Pemerintah Siapkan Aturan Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kemenhaj Siapkan Dua Skenario Haji 2026 Antisipasi Konflik Timur Tengah