Analis: Ketegangan Timur Tengah Ancam Sektor Properti Indonesia Lewat Inflasi dan Kurs

- Minggu, 08 Maret 2026 | 19:35 WIB
Analis: Ketegangan Timur Tengah Ancam Sektor Properti Indonesia Lewat Inflasi dan Kurs

Ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran kembali memanas. Situasi ini, tentu saja, menebarkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global. Di Indonesia, sorotan mulai mengarah ke sektor properti. Bagaimana dampaknya?

Menurut Ferry Salanto, Head of Research Services Colliers Indonesia, konflik di Timur Tengah tidak serta-merta menghentikan transaksi rumah atau apartemen di dalam negeri. "Tapi, kita harus ingat," katanya, "sektor properti ini sangat sensitif. Ia bergantung pada stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang."

Jadi, dampaknya lebih bersifat tidak langsung. Menurut Ferry, ada beberapa jalur transmisi ekonomi yang perlu dicermati.

Pertama, soal harga minyak dan inflasi. Eskalasi konflik bisa mendongkrak harga minyak dunia, terutama jika jalur distribusi energi terganggu. Indonesia sebagai pengimpor energi pun rentan. Naiknya biaya transportasi dan logistik berpotensi memicu inflasi.

Inflasi yang melonjak bisa memaksa otoritas moneter bertindak. Kebijakan bisa jadi lebih ketat, suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Nah, di sinilah masalahnya bagi properti. Suku bunga adalah variabel kunci. Mayoritas pembelian rumah kelas menengah masih mengandalkan KPR.

"Kenaikan suku bunga akan langsung memengaruhi keterjangkauan cicilan dan daya beli," jelas Ferry.

Jalur kedua adalah nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global sering memicu capital outflow. Dana mengalir ke aset safe haven seperti dolar AS atau emas. Alhasil, rupiah berpotensi melemah.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar