BMKG Peringatkan Cuaca Lebih Kering dan Risiko Karhutla Meningkat pada 2026

- Jumat, 06 Maret 2026 | 19:40 WIB
BMKG Peringatkan Cuaca Lebih Kering dan Risiko Karhutla Meningkat pada 2026

Cuaca kering yang lebih parah diprediksi akan melanda Indonesia pada tahun 2026 mendatang. Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Apel Nasional Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin. Intinya, masyarakat diminta waspada. Risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan bakal meningkat.

Menurut paparan Faisal, tahun 2025 ini kondisi relatif lebih basah karena pengaruh La Niña lemah. Namun begitu, situasinya akan berubah. Memasuki April 2026, fenomena ENSO dan Indian Ocean Dipole diprediksi masuk fase netral. Artinya, tidak ada La Niña maupun El Niño.

"Artinya, kita harus bersiap karena tantangan Karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering," tegas Faisal, Jumat (6/3/2026).

Kondisi netral itu justru mengindikasikan sesuatu: curah hujan cenderung lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. Bahkan, diperkirakan akan sedikit jatuh di bawah rata-rata klimatologis tiga dekade terakhir. Kekhawatiran utama pun muncul.

Di sisi lain, ada sedikit celah. Wilayah ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini masih dalam fase 'kemarau kecil'. Masih ada peluang hujan sebelum puncak kemarau benar-benar menghantam pada Juni-Agustus. Momentum inilah yang ingin dimanfaatkan.

BMKG bersama BNPB berencana menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca. Tujuannya jelas: menurunkan hujan dan membasahi lahan gambut supaya lebih jenuh air sebelum periode kering memuncak. Upaya ini diharapkan bisa menjadi tameng.

Lalu, bagaimana dengan wilayah selatan? Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara masih diguyur hujan relatif tinggi hingga awal Maret. Tapi, curah hujan ini diperkirakan akan menurun perlahan, bertahap menuju musim kemarau di pertengahan bulan.

BMKG juga tidak lengah. Mereka terus memantau potensi siklus El Nino empat tahunan yang bisa terjadi pada 2027. Kekhawatirannya, jika fenomena ini muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa udara kering, Indonesia bisa menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan sulit.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar