PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi dalam Hampir Dua Tahun di Februari 2026

- Selasa, 03 Maret 2026 | 08:20 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi dalam Hampir Dua Tahun di Februari 2026

Februari 2026 ternyata menjadi bulan yang cukup membanggakan bagi industri manufaktur kita. Sektor ini berhasil mencatatkan level ekspansi tertinggi dalam kurun waktu hampir dua tahun. Angkanya? Purchasing Managers' Index (PMI) melonjak ke 53,8, naik cukup signifikan dari posisi Januari yang berada di 52,6.

Kalau dirunut, penguatan ini nggak datang tiba-tiba. Febrio Kacaribu, Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, bilang pemicu utamanya adalah tingginya permintaan baru. Permintaan itu, ya, otomatis diikuti dengan pertumbuhan produksi yang pesat.

"Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis," ujar Febrio dalam keterangan resminya, Selasa (3/3/2026).

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga juga menunjukkan peran besarnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tercatat tumbuh 7,9 persen secara tahunan. Peningkatan ini terasa nyata, terutama di penjualan makanan, minuman, dan pakaian. Mobilitas masyarakat yang kembali tinggi jelas jadi pendorong utama.

"Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen," tambah Febrio.

Optimisme masyarakat pun masih kencang. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik ke level 127, dari sebelumnya 123,5. Rasanya, sentimen positif ini masih akan bertahan.

Bagaimana dengan performa di kancah global? Ternyata juga ada kabar baik. Neraca perdagangan Indonesia berhasil surplus USD0,95 miliar. Andil terbesar datang dari ekspor non-migas, khususnya industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen. Komoditas andalan seperti minyak sawit, nikel, dan besi baja masih jadi penyokong. Yang menarik, produk bernilai tambah seperti otomotif dan elektronik juga mulai menunjukkan taringnya.

Memang, di saat yang sama, impor juga naik cukup tinggi, 18,21 persen menjadi USD21,20 miliar. Tapi kenaikan ini justru dibaca sebagai sinyal positif. Kenapa? Karena didominasi oleh bahan baku dan barang modal. Artinya, aktivitas investasi dan produksi di dalam negeri sedang bergeliat, bukan sekadar konsumsi.

Namun begitu, di balik semua data hijau ini, pemerintah nggak tutup mata. Ada satu titik panas yang terus diawasi dengan ketat: eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan AS dan Israel ke Iran akhir Februari lalu, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, adalah ancaman nyata bagi rantai pasok energi global.

Febrio menekankan, gangguan pasokan minyak dan gejolak pasar keuangan global berpotensi menekan ekonomi kita, terutama lewat lonjakan biaya logistik.

"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional," katanya.

Jadi, meski angin domestik berhembus kencang ke arah yang baik, mata tetap waspada ke arah lautan global yang bisa berubah setiap saat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar