Sementara itu, dari sisi investor, optimisme juga terasa kuat.
Chief Executive Officer Arsari Group, Hashim S Djojohadikusumo, menyatakan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bagian dari komitmen jangka panjang. "Dengan pengalaman panjang dan teruji sektor migas serta dukungan pembiayaan yang solid, kami optimistis proyek ini dapat dijalankan secara profesional, tepat waktu, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara serta penguatan ketahanan energi Indonesia," ujar Hashim.
Jalannya proyek sudah dipetakan. Rangkaian fase utamanya dimulai dari Pre-FID pada 2025, lalu menuju target First Gas di akhir 2027. Rentang waktu itu akan diisi dengan serangkaian pekerjaan besar: engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, hingga instalasi fasilitas lepas pantai.
Momentum ini, tak bisa dipungkiri, adalah tonggak penting. Ia mencerminkan sinergi yang solid antara pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Targetnya jelas: mendongkrak produksi gas nasional dan sekaligus memperkuat ketahanan energi kita.
"FID proyek Gas Mako dapat terwujud berkat kolaborasi antara para KKKS Wilayah Kerja Duyung, SKK Migas dan instansi pemerintah terkait, PLN EPI sebagai offtaker, serta mitra nasional yang turut memperkuat struktur proyek," tambah Djoko menutup pembicaraan.
Jika semua berjalan mulus, Lapangan Gas Mako diperkirakan mulai berproduksi pada kuartal keempat tahun 2027. Dampaknya diharapkan bisa dirasakan langsung oleh sektor hulu migas Indonesia, memberikan suntikan baru bagi keberlanjutannya.
Artikel Terkait
Pemerintah Larang Truk Besar di Jalan Tol dan Arteri Utama Saat Mudik Lebaran 2026
Gubernur DKI Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Harga, Siapkan Langkah Antisipasi
APINDO dan Produsen Listrik Swasti Khawatir Pemangkasan Produksi Batu Bara Ancam Pasokan Listrik Nasional
Luhut Kenang Keteladanan dan Kesetiaan Try Sutrisno