Di sisi lain, kenaikan impresif justru datang dari kawasan lain. Afrika, misalnya, mencatat lonjakan fantastis sebesar 30,9 persen. Ekspor ke benua itu mencapai 4,19 juta ton. China, pasar raksasa itu, juga tetap haus dengan kenaikan 12 persen, menyedot hampir 6 juta ton minyak sawit Indonesia. Pakistan pun ikut menambah porsi dengan kenaikan 7,1 persen.
Perlu diingat, devisa dari sawit ini bukan main-main. Selama lima tahun terakhir, kontribusinya berkisar antara 27,7 hingga 39 miliar dolar AS. Itu angka yang sangat signifikan. Tak heran jika komoditas ini kerap disebut sebagai penyelamat neraca perdagangan, menjaga agar angka itu tetap positif dari tahun ke tahun.
Yang menarik, semua capaian ini terjadi di tengah iklim industri yang makin penuh tantangan. Mulai dari isu lingkungan hingga fluktuasi harga global. Namun, produksi dalam negeri ternyata tetap bisa ditingkatkan. Produksi CPO naik 7,2 persen menjadi 51,66 juta ton. Konsumsi domestiknya juga tumbuh, meski lebih pelan, sebesar 3,8 persen.
Singkatnya, tahun 2025 menjadi babak lain yang solid untuk kelapa sawit Indonesia. Dengan diversifikasi pasar yang mulai terlihat meski ada tekanan dari beberapa negara sektor ini masih menjadi andalan devisa. Tantangan ke depan? Tentu ada. Tapi data terakhir ini setidaknya memberi fondasi yang cukup kuat untuk menghadapinya.
(kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel, Iran Balas Serang
Iran Serang Dubai dan Kawasan Teluk, Hotel Mewah dan Bandara Terdampak
IRGC Sumpah Balas Dendam atas Kematian Ayatollah Khamenei
Media Iran Konfirmasi Kematian Ayatollah Khamenei dalam Serangan AS-Israel