Ekspor Minyak Sawit Indonesia 2025: Volume Naik 9,5%, Nilai Melonjak 29,2%

- Minggu, 01 Maret 2026 | 07:40 WIB
Ekspor Minyak Sawit Indonesia 2025: Volume Naik 9,5%, Nilai Melonjak 29,2%

Laporan terbaru dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan kinerja ekspor yang cukup menggembirakan sepanjang tahun lalu. Volume ekspor produk minyak sawit naik 9,5 persen, dari 29,5 juta ton di tahun sebelumnya menjadi 32,3 juta ton pada 2025. Angka ini bukan sekadar kenaikan volume biasa.

Nilai ekspornya malah melesat lebih tinggi.

"Untuk nilai ekspor meningkat 29,2 persen pada tahun 2025, dari US$27,7 miliar menjadi USD35,8 miliar,"

Begitu bunyi data yang dirilis Gapki, Minggu (1/3/2026). Jadi, meski volumenya naik sekitar sepersepuluh, nilai dolar yang masuk ke kas negara melonjak hampir sepertiga. Situasi yang tentu disambut baik.

Tapi, peta perdagangannya tak sepenuhnya merata. Di satu sisi, beberapa pasar tradisional justre menyusut. Ekspor ke India anjlok cukup dalam, turun 17,8 persen menjadi 3,97 juta ton. Pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat juga ikut mengecil, meski penurunannya lebih moderat, masing-masing 2,9 persen dan 0,7 persen.

Di sisi lain, kenaikan impresif justru datang dari kawasan lain. Afrika, misalnya, mencatat lonjakan fantastis sebesar 30,9 persen. Ekspor ke benua itu mencapai 4,19 juta ton. China, pasar raksasa itu, juga tetap haus dengan kenaikan 12 persen, menyedot hampir 6 juta ton minyak sawit Indonesia. Pakistan pun ikut menambah porsi dengan kenaikan 7,1 persen.

Perlu diingat, devisa dari sawit ini bukan main-main. Selama lima tahun terakhir, kontribusinya berkisar antara 27,7 hingga 39 miliar dolar AS. Itu angka yang sangat signifikan. Tak heran jika komoditas ini kerap disebut sebagai penyelamat neraca perdagangan, menjaga agar angka itu tetap positif dari tahun ke tahun.

Yang menarik, semua capaian ini terjadi di tengah iklim industri yang makin penuh tantangan. Mulai dari isu lingkungan hingga fluktuasi harga global. Namun, produksi dalam negeri ternyata tetap bisa ditingkatkan. Produksi CPO naik 7,2 persen menjadi 51,66 juta ton. Konsumsi domestiknya juga tumbuh, meski lebih pelan, sebesar 3,8 persen.

Singkatnya, tahun 2025 menjadi babak lain yang solid untuk kelapa sawit Indonesia. Dengan diversifikasi pasar yang mulai terlihat meski ada tekanan dari beberapa negara sektor ini masih menjadi andalan devisa. Tantangan ke depan? Tentu ada. Tapi data terakhir ini setidaknya memberi fondasi yang cukup kuat untuk menghadapinya.

(kunthi fahmar sandy)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar