Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal RI Kuat

- Kamis, 16 April 2026 | 09:10 WIB
Menkeu Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman IMF, Sebut Ketahanan Fiskal RI Kuat

JAKARTA Dalam kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendapat tawaran yang cukup menarik. Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, menyodorkan opsi pinjaman kepada pemerintah Indonesia. Tawaran ini dimaksudkan sebagai bantalan fiskal, membantu RI bertahan di tengah ketidakpastian global yang makin pelik.

Pertemuan dengan Georgieva sendiri adalah salah satu agenda utama diplomasi ekonomi Purbaya di AS awal pekan ini. Pembicaraan mereka berlangsung cukup mendalam.

Menurut sejumlah saksi, Georgieva awalnya banyak memaparkan dinamika geopolitik Timur Tengah. Konflik yang dipicu serangan AS itu, katanya, diperkirakan tidak akan berlangsung singkat. Bahkan, muara dan akhir dari perang ini sulit diprediksi.

Mendengar penjelasan itu, Purbaya lantas bertanya. Apa yang bisa IMF lakukan untuk meredam efek ekonomi dari ketidakpastian semacam itu?

"Dia bilang IMF tidak punya otoritas dalam hal itu. Tapi mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan,"

Purbaya mengingat percakapan itu dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Namun begitu, Menkeu dengan tegas menolak tawaran tersebut. Alasannya sederhana: ketahanan fiskal nasional dinilai masih sangat kuat, sehingga pinjaman IMF tidak diperlukan. Purbaya merujuk pada saldo anggaran lebih (SAL) yang mengendap di Bank Indonesia dana yang siap dipakai kapan saja jika dibutuhkan.

"Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan. Anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar, Rp420 triliun yang saya bilang sebelumnya,"

katanya lagi.

Yang menarik, Purbaya mengklaim pihak IMF justru takjub dengan kebijakan fiskal pemerintah kita. Di saat banyak negara lain menghadapi pelambatan, Indonesia dinilai mampu menjaga perekonomiannya. Menurut sang Menteri, sejumlah injeksi keuangan ke sektor perbankan menjadi salah satu penopang utama.

Di hadapan IMF, Purbaya juga memaparkan sejumlah indikator makro, seperti daya konsumsi rumah tangga yang masih terjaga. Kebijakan anggaran yang digulirkan sejak tahun lalu, klaimnya, berdampak positif saat dunia dilanda efek perang, termasuk inflasi harga minyak.

"Dan dia kelihatannya senang dengan keadaan seperti itu. Tapi mereka tidak akan melakukan kebijakan khusus untuk membantu negara-negara lain. Yang jelas, mereka akan memberitahukan ke seluruh dunia negara-negara mana saja yang performancenya bagus,"

tutup Purbaya mengakhiri ceritanya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar