"Jadi bukan inject dibuang. Itu ongkos service yang ditunda karena Covid, penumpangnya juga tidak ada, dibiarkan saja dulu. Waktu harus service, sudah menumpuk," ujarnya menggambarkan kondisi saat itu.
Di sisi lain, ada lagi alokasi dana sebesar Rp3 triliun. Angka ini dipakai khusus untuk melunasi utang bahan bakar minyak (BBM) maskapai kepada Pertamina.
Namun begitu, kondisi pasca pandemi rupanya belum sepenuhnya memberi angin segar. Periode ini belum cukup menguntungkan bagi Garuda dan anak perusahaannya. Masih banyak pesawat yang belum bisa beroperasi penuh karena perbaikannya belum rampung.
Pendapatan yang masuk pun, meski penerbangan sudah berjalan, jumlahnya terbatas. Uang itu nyaris hanya cukup untuk membayar gaji kru dan biaya perawatan harian.
"Kalau terbang pun, uangnya dipakai buat maintenance, pegawai, buat segala macam," kata Rohan.
Keadaan itulah, menurutnya, yang membuat dampak suntikan modal baru terasa sekarang terhadap kinerja keuangan Garuda. Sebuah proses pemulihan yang ternyata butuh waktu dan dana yang tidak sedikit.
Artikel Terkait
Inspirasi Ceramah Singkat Ramadhan: Dari Kejujuran hingga Empati Sosial
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika
Deva Mahenra Pulang ke Makassar untuk Antar Nenek ke Peristirahatan Terakhir
Sahur On The Road Bisa Diisi Kegiatan Bermakna, Ini 5 Ide Alternatif