Persoalan utamanya adalah ketimpangan yang parah. Coba lihat Pulau Jawa. Kepadatannya tinggi, kebutuhan industri besar, tapi justru krisis air mengancam. Di sisi lain, daerah lain mungkin punya sumber air yang lebih melimpah. "Jadi tidak merata. Ini masalahnya ketimpangan, masalah dengan demografi kita," ucap dia.
Dia menitikberatkan bahwa ketersediaan air bersih bukan cuma urusan kenyamanan, tapi sudah menyentuh urusan vital kehidupan dan ketahanan nasional. Karena itu, upaya konservasi air ke depan dinilai tak kalah pentingnya. Mulai dari mendukung irigasi untuk swasembada pangan, hingga memastikan setiap keluarga bisa dapat jatah yang layak.
Rincian kebutuhan air pun dijelaskannya. Untuk rumah tangga menyerap sekitar 9 persen, industri 6 persen, kebutuhan komersial 3 persen, dan sektor lain 8 persen. Meski persentase rumah tangga terbesar, AHY mengingatkan bahwa semua sektor ini tetap bergantung pada sumber yang sama: air bersih yang tersedia.
"Jadi kami fokus di sini (rumah tangga), karena ini kebutuhan yang paling besar, tapi ingat ini semua membutuhkan ketersediaan air bersih juga," pungkasnya.
Target 24 juta sambungan pipa dalam lima tahun ke depan jelas pekerjaan besar. Tantangan demografi dan geografi menunggu. Tinggal tunggu, apakah janji ini akan mengalir lancar, atau justru mandek di tengah jalan.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 11 Bulan ke Depan
Polri Ungkap Kerugian Rp92,64 Miliar Akibat Maraknya Penipuan Haji
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Tersangka OTT, Modus Pemerasan Jadi Tren 2026
BRI Jadi Bank Pertama di Indonesia Raih Sertifikasi Kualitas Software ISO/IEC 25000