Katanya lagi.
Lalu, bagaimana dengan klaim efisiensi anggaran? Di sini Ristadi menyoroti perbandingan harga yang dinilainya tidak jernih. Menurutnya, harga pick up 4x4 impor India bisa mencapai Rp 290 juta hingga Rp 400 juta per unit. Sementara, produk dalam negeri seperti Carry atau Gran Max harganya berkisar Rp 170-190 juta.
"Jadi lebih efesien mana dengan alat angkut yang selama ini sudah berjalan,"
Tanyanya retoris.
KSPN pun akhirnya meminta campur tangan langsung Presiden Prabowo. Mereka ingin presiden memerintahkan Dirut PT Agrinas membatalkan impor dan mengalihkan pesanan ke industri dalam negeri.
"Kami meminta Presiden Prabowo perintahkan Dirut PT Agrinas agar membatalkan import kendaraan niaga operasional Kopdes Merah Putih, dan memesan ke industri otomotif dalam negeri yang sedang dalam kondisi lesu karena berkurangnya order supaya bisa bergairah kembali,"
Papar Ristadi.
Manfaatnya, lanjut dia, akan berlapis. Industri bergairah, PHK bisa dicegah, lapangan kerja baru tercipta. Pada akhirnya, manfaat ekonomi akan benar-benar mengalir ke rakyat Indonesia, bukan ke pelaku ekonomi luar negeri.
Desakan ini jelas memberi warna baru pada polemik impor pick up tersebut. Tekanan kini tidak hanya datang dari asosiasi industri, tapi juga dari serikat pekerja yang melihat dampaknya langsung pada nasib buruh.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet Konfirmasi Rencana Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia
KPK Tangkap Bupati Tulungagung dalam Operasi Tangkap Tangan
Sekretaris Kabinet Kritik Inflasi Pengamat dan Data yang Keliru
Pelatih Persija Bela Shayne Pattynama Usai Kritik Pedas Pengamat