Peringatannya nggak berlebihan. Penggunaan kendaraan pribadi, terutama di jalur-jalur macam Pantura, Trans Jawa, dan Trans Sumatera, selalu tinggi. Kelelahan pengemudi jadi salah satu pemicu kecelakaan yang paling sering terjadi. Karena itulah, peran masjid jadi strategis banget. Dia bukan cuma tempat ibadah, tapi juga ruang pelayanan publik yang bisa jadi penyelamat.
Di sisi lain, biar mudah dikenali, masjid yang ikut program ini akan diberi penanda khusus di jalur utama. Jadi pemudik nggak perlu ragu-ragu buat mampir.
Menariknya, program ini nggak eksklusif. Menurut Menag, rumah ibadah lain juga akan dilibatkan di sejumlah daerah. Misalnya gereja di wilayah Sumatera Utara dan kawasan Indonesia Timur. Pendekatan ini jelas mau nunjukkin bahwa rumah ibadah itu sejatinya ruang kemanusiaan yang terbuka untuk siapa saja, tanpa pandang bulu.
“Adanya program ini, dapat meniru masjid nabi, masjid juga menerima tamu baik muslim dan non muslim, jangan ada diskriminasi. Masjid harus jadi rumah besar kemanusiaan, dan sebagai strategi yang membantu kesuksesan manajemen mudik Lebaran,” kata Menag.
Rencana ini sejalan dengan persiapan besar-besaran Kemenhub. Mereka memproyeksikan bakal ada sekitar 143 juta pemudik tahun depan. Jadi, sinkronisasi data antara Kemenag dan Kemenhub itu penting banget. Biar nggak tumpang-tindih di lapangan, dan semua bisa berjalan sinergis.
Pada akhirnya, ini soal keselamatan bersama. Menyediakan tempat singgah yang manusiawi di tengah perjalanan panjang, bisa jadi pembeda antara selamat sampai tujuan atau malah celaka di jalan.
Artikel Terkait
Sekretaris Kabinet Kritik Inflasi Pengamat dan Data yang Keliru
Pelatih Persija Bela Shayne Pattynama Usai Kritik Pedas Pengamat
Transaksi QRIS di Luar Negeri Tumbuh 28%, ALTO Tambah 3 Negara Mitra Baru
BRI Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun, Yield Total Tembus 10,1%