Ketegangan di Teluk Persia kembali memanas, dan kali ini Uni Emirat Arab (UEA) mengambil sikap yang jelas. Mereka menutup pintu bagi penggunaan wilayahnya untuk aksi militer apa pun yang ditujukan ke Iran. Langkah ini diumumkan lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri mereka, Selasa lalu.
Intinya, UEA tak akan memfasilitasi serangan atau memberikan dukungan logistik. Mereka justru menyerukan de-eskalasi dan diplomasi sebagai jalan keluar. "Kemlu menegaskan kembali komitmen Uni Emirat Arab untuk tidak mengizinkan wilayah udara, wilayah darat, maupun perairannya digunakan dalam tindakan militer apa pun yang bersifat memusuhi Iran," begitu bunyi pernyataan tertulis yang beredar di media sosial.
Pernyataan itu juga menekankan keyakinan UEA bahwa dialog dan kepatuhan pada hukum internasional adalah fondasi terbaik untuk mengatasi krisis. "Sekaligus menggarisbawahi pendekatan UEA dalam menyelesaikan perselisihan melalui sarana diplomatik," paparnya lebih lanjut.
Arab Saudi Ikut Bersuara
UEA bukan satu-satunya. Sepekan sebelumnya, Arab Saudi sudah lebih dulu melontarkan pernyataan serupa. Intinya sama: mereka tak akan mengizinkan wilayah udara atau daratnya dipakai untuk menyerang Iran.
Menurut sejumlah saksi, pernyataan Riyadh itu muncul di tengah ancaman keras dari mantan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam respons keras jika Iran terus menindak protes dalam negeri.
"Arab Saudi telah menginformasikan kepada Teheran secara langsung bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari tindakan militer apa pun yang ditujukan terhadap Iran, dan bahwa wilayah darat serta wilayah udaranya tidak akan digunakan untuk tujuan tersebut," ujar seorang sumber dekat militer Saudi kepada AFP.
Armada Perang AS Bergerak
Lalu, bagaimana dengan Amerika Serikat? Situasinya terasa seperti rollercoaster. Awal pekan lalu, prospek perang sempat mereda setelah Gedung Putih menyatakan Iran menghentikan rencana eksekusi terhadap demonstran. Namun, angin berubah beberapa hari kemudian.
Trump sendiri yang mengonfirmasi bahwa persiapan militer terus berjalan. "Anda tahu kami mengirim banyak kapal ke arah sana, hanya untuk berjaga-jaga... Kami mengirim kekuatan besar menuju Iran," katanya. Gugus tempur kapal induk AS dikabarkan akan segera tiba di kawasan.
Sikap Tegas dari Teheran
Di sisi lain, Iran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Seorang pejabat senior Iran yang enggan disebut namanya memberikan peringatan yang gamblang. Mereka akan memperlakukan serangan apa pun sebagai "perang habis-habisan".
"Penumpukan kekuatan militer ini kami harap tidak ditujukan untuk konfrontasi nyata tetapi militer kami siap untuk skenario terburuk. Inilah sebabnya mengapa semuanya berada dalam kesiagaan penuh di Iran," ujar pejabat tersebut.
Jadi, meski dua kekuatan regional penting UEA dan Arab Saudi telah menyatakan tak ingin terlibat, langkah diplomasi masih harus bersaing dengan dentuman persiapan perang. Kawasan ini sekali lagi menahan napas, menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Tewaskan Dua Orang, Puluhan Luka-Luka
PSM Makassar Takluk 2-0 dari Bali United Usai Kartu Merah di Babak Pertama
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu