Rencana pemerintah untuk meningkatkan impor minyak dari Amerika Serikat, pasca kesepakatan tarif resiprokal, menuai kritik dari sejumlah pengamat ekonomi. Bima Yudhistira, Direktur Celios, menyoroti potensi risiko yang mengintai. Menurutnya, langkah ini bisa menekan nilai tukar rupiah dan memperlebar defisit neraca migas kita.
Selama ini, Indonesia lebih banyak mengimpor minyak dari Timur Tengah. Alasannya sederhana: harganya lebih murah. Meski Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang ini cuma soal ganti sumber, bukan nambah volume, Bima punya catatan lain.
"Kalau hanya bergeser sumber impor saja, tetap ada konsekuensi biaya," ujarnya dalam jumpa pers virtual, Senin (23/2/2026).
"Selama ini kita beli dari Timur Tengah karena lebih murah. Kalau impor dari AS lebih mahal, maka beban pembayaran devisa meningkat."
Nah, masalahnya nggak cuma di harga. Ada soal teknis juga. Kilang-kilang Pertamina itu dirancang untuk mengolah jenis minyak mentah tertentu. Minyak dari AS punya spesifikasi berbeda. Kalau tidak cocok, butuh penyesuaian proses atau blending. Artinya? Biaya produksi bisa ikut membengkak.
Dampaknya berantai. Biaya impor yang membesar otomatis meningkatkan permintaan akan dolar AS. Logikanya, makin besar nilai impor, makin banyak kebutuhan devisa. Situasi ini berpotensi mendorong pelemahan rupiah.
"Nanti konsekuensinya adalah pada pelemahan nilai tukar rupiah," jelas Bima.
"Kemudian konsekuensi terhadap pelebaran defisit neraca migas, tapi juga konsekuensi terhadap ketergantungan energi fosil dalam jangka panjang."
Di sisi lain, Bima mengingatkan soal risiko jangka panjang. Ketergantungan pada impor energi fosil bisa memperburuk struktur ekonomi eksternal Indonesia. Kita jadi rentan digoyang fluktuasi harga global. Yang ironis, hal ini justru bertolak belakang dengan visi swasembada energi yang kerap digaungkan.
Lalu, solusi idealnya apa? Strateginya harus fokus menekan impor. Caranya dengan mendongkrak produksi domestik, mendiversifikasi sumber energi, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Tanpa langkah-langkah fundamental itu, setiap gejolak harga minyak dunia akan langsung terasa: rupiah melemah, defisit transaksi berjalan makin lebar.
"Sehingga dengan hanya bergeser pun, ini angkanya sebenarnya membuat Indonesia jauh lebih mahal," tegas Bima.
Kesepakatan dengan AS sendiri memang cukup besar. Pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi dari sana, dengan nilai indikatif mencapai sekitar 15 miliar dolar AS. Komitmen itu mencakup impor LPG, minyak mentah, produk BBM olahan tertentu, plus komoditas energi lain seperti batubara metalurgi.
Namun begitu, di balik angka-angka fantastis itu, para ahli mengingatkan untuk membaca detail dan konsekuensinya dengan lebih jeli.
Artikel Terkait
Masjid di Tepi Barat Dibakar Pemukim Israel di Bulan Ramadan
Polisi Tangkap Dua dari Empat Pelaku Curanmor Bersenjata Viral di Grogol
Pemerintah Siapkan 7.000 Masjid Jadi Pos Istirahat 24 Jam untuk Pemudik
Utusan Trump Temui Reza Pahlavi, Isyarat Perubahan Sikap AS terhadap Rezim Iran