"Kemudian konsekuensi terhadap pelebaran defisit neraca migas, tapi juga konsekuensi terhadap ketergantungan energi fosil dalam jangka panjang."
Di sisi lain, Bima mengingatkan soal risiko jangka panjang. Ketergantungan pada impor energi fosil bisa memperburuk struktur ekonomi eksternal Indonesia. Kita jadi rentan digoyang fluktuasi harga global. Yang ironis, hal ini justru bertolak belakang dengan visi swasembada energi yang kerap digaungkan.
Lalu, solusi idealnya apa? Strateginya harus fokus menekan impor. Caranya dengan mendongkrak produksi domestik, mendiversifikasi sumber energi, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. Tanpa langkah-langkah fundamental itu, setiap gejolak harga minyak dunia akan langsung terasa: rupiah melemah, defisit transaksi berjalan makin lebar.
"Sehingga dengan hanya bergeser pun, ini angkanya sebenarnya membuat Indonesia jauh lebih mahal," tegas Bima.
Kesepakatan dengan AS sendiri memang cukup besar. Pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi dari sana, dengan nilai indikatif mencapai sekitar 15 miliar dolar AS. Komitmen itu mencakup impor LPG, minyak mentah, produk BBM olahan tertentu, plus komoditas energi lain seperti batubara metalurgi.
Namun begitu, di balik angka-angka fantastis itu, para ahli mengingatkan untuk membaca detail dan konsekuensinya dengan lebih jeli.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Tulungagung dalam Operasi Tangkap Tangan
Sekretaris Kabinet Kritik Inflasi Pengamat dan Data yang Keliru
Pelatih Persija Bela Shayne Pattynama Usai Kritik Pedas Pengamat
Transaksi QRIS di Luar Negeri Tumbuh 28%, ALTO Tambah 3 Negara Mitra Baru