MURIANETWORK.COM - Sejumlah komoditas pangan pokok justru mengalami penurunan harga sehari sebelum memasuki bulan Ramadan. Data harian Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Rabu (18/2/2026) menunjukkan tren penurunan yang cukup luas, mencakup beras, cabai, bawang, hingga minyak goreng. Kondisi ini memberikan angin segar bagi masyarakat yang tengah mempersiapkan kebutuhan pokok untuk menyambut bulan suci.
Tren Penurunan Harga Komoditas Utama
Analisis data panel harga mengungkap penurunan yang signifikan pada beberapa bahan pangan strategis. Beras premium, misalnya, turun 1,74 persen menjadi Rp15.383 per kilogram. Sementara itu, beras medium dan beras SPHP juga mengalami koreksi masing-masing sebesar 1,12 persen dan 0,52 persen. Meski demikian, tidak semua jenis beras turun, karena beras khusus lokal justru tercatat naik tipis 0,68 persen.
Penurunan yang lebih tajam terlihat pada komoditas hortikultura. Harga cabai merah besar anjlok 10,68 persen menjadi Rp37.828 per kg, diikuti cabai merah keriting yang turun 4,8 persen. Bawang merah dan bawang putih juga ikut melandai dengan penurunan masing-masing 4,61 persen dan 2,42 persen.
Kondisi Bahan Pokok Lainnya
Tren serupa terjadi pada kelompok bahan pokok lainnya. Minyak goreng kemasan turun 1,58 persen, sementara Minyakita turun 1,68 persen. Harga telur ayam ras dan daging ayam ras juga tercatat melandai, masing-masing sebesar 2,44 persen dan 1,27 persen. Gula konsumsi dan tepung terigu kemasan pun tidak luput dari tren penurunan ini.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menunjukkan pergerakan naik. Daging sapi murni, misalnya, mengalami kenaikan sebesar 1 persen. Beberapa jenis ikan seperti kembung, tongkol, dan bandeng juga tercatat menguat. Kenaikan ini memberikan gambaran yang beragam dari dinamika pasar pangan nasional.
Analisis Singkat Pergerakan Pasar
Fenomena penurunan harga jelang Ramadan ini menarik untuk dicermati. Biasanya, permintaan yang meningkat justru mendorong harga naik. Penurunan yang tercatat dalam data Bapanas ini bisa jadi merupakan hasil dari intervensi pasokan dan pengawasan pasar yang intensif oleh otoritas terkait untuk menjaga stabilitas. Kehati-hatian dalam membaca data ini diperlukan, mengingat harga pangan sangat dinamis dan dapat berbeda antar wilayah.
Meski data nasional menunjukkan tren penurunan, realitas di tingkat pedagang eceran dan pasar tradisional bisa saja bervariasi. Faktor logistik, ketersediaan stok lokal, dan permintaan masyarakat di daerah tertentu tetap menjadi penentu akhir harga yang dibayar konsumen.
Artikel Terkait
Tito Paparkan Progres Huntara Capai 50 Persen, Huntap Masih Perlu Percepatan
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus USD431,7 Miliar di Akhir 2025
Mendag Klaim Stok Minyak Goreng Aman Jelang Ramadan Berkat Pasokan BUMN
Trump Sampaikan Ucapan Selamat Ramadan, Tegaskan Komitmen Kebebasan Beragama