Indonesia kini melangkah ke babak baru. Dunia sedang berebut mineral kritis, dan negeri ini ternyata punya kartu as untuk ikut bermain. Komoditas langka itu bukan main-main ia jadi tulang punggung untuk energi terbarukan, teknologi tinggi, bahkan alat pertahanan.
Momen pentingnya ditandai dengan kesepakatan antara PT Perminas (Persero) dengan perusahaan asal Abu Dhabi, New Energy Metals Holdings Ltd. Intinya, mereka mau bangun rantai pasok rare earth yang terintegrasi, lintas negara. Kerja sama ini bukan cuma di atas kertas, tapi sinyal kuat bahwa Indonesia mulai diperhitungkan.
Menurut Brian Yuliarto dari Badan Industri Mineral, kolaborasi semacam ini bukti kapasitas industri dalam negeri yang kian matang. Di sisi lain, kepercayaan dari mitra global seperti UEA tentu angin segar. “Ini menandai fase baru,” ujarnya.
Pernyataannya disampaikan Selasa lalu, menegaskan ambisi Indonesia tak setengah-setengah. Memang, apa sih pentingnya mineral semacam neodymium atau dysprosium? Bahan-bahan itu adalah jantung dari magnet permanen berkinerja tinggi. Tanpanya, kendaraan listrik, turbin angin, atau peralatan pertahanan canggih mungkin tak akan berfungsi optimal. Singkatnya, ini soal ketahanan industri dan transisi energi.
Artikel Terkait
Tips Hindari Kekacauan Saat Libur Panjang Akhir Pekan
Harga Cabai Anjlom, Bawang Merah dan Ayam Naik Tipis Menurut BI
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram
Justin Hubner Terancam Izin Kerja di Belanda Meski Berstatus Homegrown di Inggris