Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Melebar, Lahan Warga Terkikis

- Jumat, 13 Februari 2026 | 09:15 WIB
Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Melebar, Lahan Warga Terkikis

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Makin Menganga, Lahan Warga Terus Tergerus

Di Desa Pondok Balik, Aceh Tengah, sebuah fenomena mengerikan terus berlanjut. Tanah amblas membentuk sinkhole atau lubang raksasa yang tak henti-hentinya melebar. Ancaman terhadap lahan pertanian warga kian nyata dan mendesak.

Pergerakan tanahnya sendiri belum berhenti. Itu masalah utamanya. Setiap harinya, tebing longsoran itu menggerus kebun dan sawah milik warga. Bisa satu meter, bisa juga lima meter. Tak ada yang tahu pasti, yang jelas luas area terdampak terus bertambah.

Menurut sejumlah saksi, sebelumnya lubang itu diperkirakan seluas 3.000 meter persegi. Tapi angka itu kini tinggal kenangan. Longsor susulan membuatnya terus meluas, tak terkendali.

Akibatnya, nasib tanaman warga pun suram. Beberapa yang sempat berharap bisa diselamatkan, kini sudah tak terjangkau. Sudah masuk ke zona merah yang berbahaya. Mereka cuma bisa pasrah, menyaksikan harta satu-satunya itu perlahan-lahan hilang, ditelan bumi yang ambles.

Mulyadi, seorang petugas dari Kementerian PU, mengakui situasinya masih terus dipantau.

"Kami terus memantau perkembangan di lapangan sembari menyiapkan langkah mitigasi agar dampak tidak semakin meluas," ujarnya, Jumat lalu.

Di sisi lain, upaya penanganan permanen masih terhambat. Pihak kementerian mengaku masih melakukan kajian teknis. Mereka harus mencari metode yang paling tepat dan aman. Sementara itu, pergerakan tanah yang masih aktif jelas meningkatkan risiko. Bukan cuma untuk kebun, tapi juga permukiman warga di sekitarnya.

Hingga saat ini, belum ada kepastian. Warga hanya bisa berharap pemerintah bergerak cepat. Sebelum kerugian bertambah besar, dan lubang itu menelan lebih banyak lagi sumber penghidupan mereka.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar