Prinsip Bisnis Bertanggung Jawab sebagai Standar Global
Pemerintah menyadari, praktik bisnis yang menghormati hak pekerja dan lingkungan kini bukan sekadar etika, melainkan prasyarat dalam perdagangan internasional. Standar seperti United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights serta deklarasi ILO untuk perusahaan multinasional menjadi rujukan utama untuk menciptakan pekerjaan yang layak (decent work).
Komitmen ini diwujudkan melalui dukungan terhadap berbagai program kolaboratif. Salah satunya adalah Program Resilient, Inclusive, and Sustainable Supply Chain (RISSC) dan RBC yang diinisiasi oleh ILO bersama pemerintah dan pelaku industri.
“Kami berharap forum ini dapat memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan daya saing industri sekaligus memastikan kualitas lingkungan kerja yang layak, sehingga Indonesia mampu membangun rantai pasok yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Menko Airlangga.
Menyiapkan Lanskap Industri Masa Depan: Semikonduktor
Selain mengonsolidasi sektor elektronik yang ada, pemerintah juga sedang membidik lanskap industri masa depan dengan fokus pada pengembangan ekosistem semikonduktor. Penyusunan peta jalan (roadmap) khusus untuk industri ini sedang digarap serius. Upaya ini diperkuat dengan menjalin kerja sama riset dan pengembangan teknologi bersama sejumlah lembaga pendidikan di Jerman dan Amerika Serikat, sebagai strategi untuk meningkatkan partisipasi Indonesia dalam rantai pasok global yang lebih tinggi nilainya.
Pada akhirnya, seluruh strategi pembangunan industri ini bertumpu pada kolaborasi tripartit yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, dan pekerja. Sinergi inilah yang diharapkan dapat membawa Indonesia tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga pada kemajuan yang berkeadilan dan berkelanjutan untuk semua pihak.
Artikel Terkait
Kemenag Kecam Kekerasan Guru di TPQ Probolinggo, Tempat Izin Belum Lengkap
Prancis Tundukkan Kolombia 3-1, Doue Cetak Brace dalam Laga Uji Coba
AS Izinkan Tanker Minyak Rusia Berlabuh di Kuba, Atasi Krisis Energi Havana
Pengamat: Kendaraan Listrik Bisa Hemat Devisa hingga Rp40 Triliun Per Tahun