Brik tak segan menunjuk hidung para pimpinan. Menurutnya, pergantian kepala staf yang terus terjadi justru melahirkan keputusan-keputusan buruk. Seperti pemangkasan besar-besaran personel dan pemendekan masa tugas cuma tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk wanita.
Kebijakan itu berakibat fatal. Banyak profesional berpengalaman memilih hengkang. Sementara itu, posisi-posisi sensitif justru diisi oleh personel yang belum siap, yang jelas kewalahan menghadapi kompleksitas medan perang sekarang.
“Divisi SDM telah beroperasi tanpa profesionalisme atau tanggung jawab selama beberapa tahun,” tambah Brik. Intinya, masalah-masalah pokok justru diabaikan.
Peringatannya jelas: krisis SDM ini bukan hal sepele. Bisa-bisa berkembang menjadi kelumpuhan total bagi angkatan bersenjata Israel. Situasi yang, bagi banyak pengamat, merupakan buah dari keputusan keliru dan beban konflik yang tiada henti.
Artikel Terkait
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tutup Usia di Jakarta
Arus Balik Lebaran di Tol Cipali Masih Lancar, Puncak Diprediksi Minggu
Mendagri Zulkifli Hasan Pantau Harga Cabai Rawit Merah Capai Rp100 Ribu per Kg
KAI Tambahkan Pemberhentian di Jatinegara Antisipasi Macet Monas