TEL AVIV Tahun ini benar-benar berat bagi militer Israel. Setelah berjibaku di berbagai front mulai Gaza, Lebanon, Suriah, hingga Iran angkatan bersenjata mereka kini menghadapi krisis sumber daya manusia paling buruk sepanjang sejarah negara itu. Situasinya digambarkan sangat parah.
Laporan terbaru dari Perwira cadangan IDF, Itzhak Brik, menyoroti hal ini dengan gamblang. Menurutnya, ribuan personel, dari perwira sampai bintara, terlihat mengelak dari tugas. Mereka menolak panggilan dinas atau memperpanjang kontrak untuk tahun 2025.
“Banyak perwira yang ingin segera mengakhiri jabatan,” tulis Brik dalam laporannya.
Dia juga blak-blakan soal isu lain: militer dituding menyembunyikan angka kerugian sebenarnya demi menjaga moral pasukan. Padahal, faktanya pahit. Dalam dua tahun perang di Gaza saja, 923 tentara tewas dan 6.399 lainnya terluka. Belum lagi sekitar 20.000 personel yang dilaporkan menderita PTSD atau stres pascatrauma.
Di sisi lain, upaya merekrut generasi muda pun terbentur tembok. Mereka enggan menandatangani kontrak jangka panjang. Padahal, penurunan tajam jumlah personel ini efeknya domino. Pemeliharaan peralatan militer mulai terbengkalai, pengoperasian sistem tempur pun terhambat. Kalau dibiarkan, kemampuan tempur Israel bisa lumpuh total.
Brik tak segan menunjuk hidung para pimpinan. Menurutnya, pergantian kepala staf yang terus terjadi justru melahirkan keputusan-keputusan buruk. Seperti pemangkasan besar-besaran personel dan pemendekan masa tugas cuma tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk wanita.
Kebijakan itu berakibat fatal. Banyak profesional berpengalaman memilih hengkang. Sementara itu, posisi-posisi sensitif justru diisi oleh personel yang belum siap, yang jelas kewalahan menghadapi kompleksitas medan perang sekarang.
“Divisi SDM telah beroperasi tanpa profesionalisme atau tanggung jawab selama beberapa tahun,” tambah Brik. Intinya, masalah-masalah pokok justru diabaikan.
Peringatannya jelas: krisis SDM ini bukan hal sepele. Bisa-bisa berkembang menjadi kelumpuhan total bagi angkatan bersenjata Israel. Situasi yang, bagi banyak pengamat, merupakan buah dari keputusan keliru dan beban konflik yang tiada henti.
Artikel Terkait
Narapidana di Lapas Dumai Diduga Dalangi Peredaran 14,7 Kg Sabu Melalui Anak Kandung
Draft Perpres Pemutihan Tunggakan BPJS Kesehatan Kelas 3 Tunggu Tanda Tangan Presiden
Kemenperin Nonaktifkan Pegawai Tersangka Kasus Dugaan Penyimpangan Ekspor CPO
Kementerian Keuangan Buka Seleksi Terbuka untuk Posisi Pimpinan OJK