Arus balik Lebaran 2026 diprediksi bakal padat merayap. Menyikapi hal itu, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) akhirnya memutuskan untuk menunda rencana pengalihan sementara lintasan penyeberangan dari Bajoe–Kolaka ke Siwa–Kolaka. Keputusan ini diambil setelah duduk bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo dan sejumlah pihak terkait lainnya.
Intinya, mereka sepakat untuk tidak mengganggu arus mudik yang masih tinggi. Tujuannya jelas: supaya layanan tetap lancar, tiket bisa diakses dengan mudah, dan yang paling penting, distribusi logistik serta pergerakan warga tidak kacau balau.
Kalau mengacu rencana awal, pengalihan itu seharusnya mulai berlaku 1 April 2026. Ini bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pelabuhan. Tapi, setelah koordinasi intensif, tanggalnya bergeser.
Menurut sejumlah pihak, implementasinya baru akan dimulai pada 10 April 2026. Dengan begitu, operasional di lintasan Bajoe–Kolaka masih bisa berjalan normal dulu selama masa transisi. Setidaknya, kenyamanan penumpang masih jadi prioritas.
Angkanya sendiri cukup mencengangkan. Dari Januari 2025 sampai Februari 2026, Pelabuhan Bajoe sudah melayani lebih dari 28 ribu penumpang. Belum lagi kendaraan yang mencapai sekitar 56 ribu unit. Data ini sekaligus menegaskan betapa sibuknya jalur ini dan posisi strategis Bajoe sebagai penghubung utama di Sulawesi.
Di sisi lain, General Manager ASDP Cabang Bajoe, Anom Sedayu Panatagama, punya penjelasan tersendiri. Ia bilang, keputusan menunda tidak bisa dihindari, mengingat kondisi di lapangan yang masih ramai, terutama saat puncak arus balik.
“Pergerakan penumpang dan kendaraan logistik di lintasan Bajoe–Kolaka masih cukup tinggi dan diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Maret. Kami perlu memastikan seluruh layanan tetap berjalan lancar tanpa gangguan, sehingga pengalihan lintasan ditunda agar tidak mengganggu distribusi logistik maupun mobilitas masyarakat,” ujarnya.
Anom menambahkan, kesiapan fasilitas di Pelabuhan Siwa juga masih perlu diperhatikan. Mulai dari penyempurnaan sarana pendukung sampai penyesuaian operasional, semuanya harus benar-benar siap sebelum dialihkan.
Nah, yang menarik, ASDP juga memikirkan nasib ekonomi warga sekitar. Mereka berencana memanfaatkan area pelabuhan Bajoe yang tak terpakai untuk UMKM. Lahan itu nantinya bisa dipakai melayani pengunjung Pantai Bajoe, yang jumlahnya bisa mencapai 6 ribu orang per bulan.
Tak cuma itu, zona di luar konstruksi juga akan dioptimalkan. Masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan, entah itu olahraga, car free day, atau sekadar acara sosial lainnya.
Soal tiket, nantinya layanan penyeberangan di lintasan Siwa–Kolaka akan dikelola online lewat Ferizy. Platform ini diharapkan bisa mempermudah calon penumpang. Sementara untuk urusan retribusi daerah dan pungutan lain, tetap jadi wewenang Pemda melalui Dinas Perhubungan setempat.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menegaskan transformasi layanan ke arah digital ini penting.
“Penerapan Ferizy di lintasan Siwa–Kolaka diharapkan mampu meningkatkan transparansi, akurasi data, serta memberikan kemudahan bagi pengguna jasa dalam merencanakan perjalanan. Kami memansikan kesiapan sistem ini berjalan optimal sebelum pengalihan lintasan diberlakukan,” jelasnya.
Selain karena arus balik, penundaan ini ternyata juga dipengaruhi hal teknis. Fasilitas di Pelabuhan Siwa masih perlu disempurnakan. Ditambah lagi, ada keterlambatan pengiriman material untuk pembangunan movable bridge atau jembatan bergeraknya.
ASDP memastikan, selama masa penundaan, operasional di Bajoe–Kolaka akan tetap berjalan seperti biasa. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan lebih awal dan memanfaatkan tiket online agar terhindar dari antrean panjang.
Ke depan, koordinasi dengan semua pemangku kepentingan akan terus diperkuat. Tujuannya satu: memastikan proses pengalihan berjalan mulus, efektif, dan akhirnya memberi manfaat optimal buat masyarakat dan konektivitas antarwilayah.
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Chelsea 1-0 di Final Piala FA, Gol Semenyo Jadi Penentu
Polri Bangun 28 Gudang Ketahanan Pangan di Seluruh Indonesia untuk Serap Hasil Panen
Polri Target Bangun 1.500 Unit Dapur Gizi pada 2026 untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Prabowo: Pangan Fondasi Negara, Swasembada Indonesia Tembus Target Lebih Cepat di Tengah Krisis Global