Artinya, pengguna bisa melihat langsung kondisi aktual di seluruh ruas tol grup tersebut mana yang lancar, mana yang mulai macet.
Namun begitu, fiturnya tidak berhenti di situ. Menjelang periode mudik Lebaran nanti, Travoy akan dilengkapi dengan informasi pendukung yang cukup krusial. Pengguna bisa menemukan lokasi rest area atau SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dengan mudah. Yang lebih penting, aplikasi ini akan menandai titik-titik rawan kecelakaan atau 'black spot'.
"Nah ini penting bagi para masyarakat," imbuh Rivan, "agar pada saat melakukan perjalanan untuk memastikan bahwa ketika melewati daerah yang rawan, mereka bisa lebih berhati-hati."
Di sisi lain, Travoy juga mengakomodasi kebutuhan transaksi dan darurat. Pengguna yang mendaftarkan kartu pembayarannya bisa mengecek riwayat transaksi di semua gerbang tanpa perlu repot menyimpan kertas struk. Dan kalau tiba-tiba mogok di jalan? Fitur bantuan darurat memungkinkan permintaan derek atau towing langsung lewat aplikasi, tanpa harus panik mencari nomor telepon.
Secara keseluruhan, langkah Jasa Marga ini terasa seperti respons atas kebutuhan pengendara modern yang menginginkan segala sesuatu dalam genggaman. Travoy bukan sekadar aplikasi pemantau lalu lintas, melainkan sebuah paket solusi digital untuk berkendara yang lebih aman dan terinformasi. Tentu, efektivitasnya baru akan teruji nanti ketika sudah digunakan secara massal di jalan.
Artikel Terkait
Korlantas Siapkan Skenario One Way Tahap Ketiga Antisipasi Puncak Arus Balik
KPK Imbau Kepala Daerah Evaluasi Penyalahgunaan Kendaraan Dinas untuk Mudik
Jasa Marga Operasikan Japek II Selatan untuk Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Kemenhub Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026, Imbau Masyarakat Hindari Keberangkatan Serempak