MURIANETWORK.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi menyusul perubahan outlook Indonesia oleh Moody's. Menurutnya, reaksi pasar tersebut berlebihan dan belum menangkap gambaran utuh kondisi fundamental ekonomi dalam negeri yang justru menunjukkan tren perbaikan signifikan.
Reaksi Pasar Dinilai Berlebihan
Volatilitas yang terjadi di pasar modal, seperti yang terlihat pada pergerakan IHSG, dinilai Purbaya lebih sebagai respons jangka pendek terhadap sentimen eksternal. Ia meyakini bahwa gejolak ini tidak mencerminkan perubahan mendasar pada perekonomian domestik. Seiring waktu, dengan semakin banyaknya data kinerja riil yang tersaji, kepercayaan investor diharapkan dapat pulih secara bertahap.
“Memang ada kekhawatiran di pasar setelah sinyal dari Moody’s. Namun, perlu dicatat bahwa penilaian tersebut dilakukan sebelum rilis data terbaru,” ujarnya.
Fondasi Ekonomi yang Lebih Solid
Purbaya menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini relatif kuat, bahkan dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Argumen ini ia dukung dengan data makroekonomi terbaru yang menunjukkan momentum pertumbuhan yang menggembirakan. Pencapaian pada kuartal IV 2025 menjadi bukti konkret dari pernyataannya tersebut.
“Faktanya, pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal IV mencapai 5,39 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan pertumbuhan tahunan 5,11 persen lebih tinggi dibandingkan China,” jelas Purbaya di Kompleks Parlemen, Senin (9/2/2026).
Momentum Pemulihan dan Kebijakan Fiskal
Keberhasilan menjaga momentum pemulihan di penghujung tahun 2025 juga menjadi sorotan. Menurut Menkeu, kebijakan fiskal yang diambil pemerintah terbukti efektif dalam menahan laju perlambatan dan mengarahkan pertumbuhan kembali ke jalur yang positif. Stabilitas ini dianggap sebagai modal berharga untuk mengejar target pertumbuhan yang lebih ambisius di masa mendatang.
“Stabilitas yang tercapai di akhir tahun lalu menunjukkan bahwa instrumen kebijakan yang kita miliki cukup efektif. Ini menjadi modal penting untuk terus mendorong pertumbuhan menuju target 6 persen,” tambahnya.
Meski tidak menampik adanya tantangan dari ketidakpastian global, Purbaya menilai risiko perlambatan ekonomi yang dalam bagi Indonesia masih terbatas. Fokus ke depan akan tetap pada penguatan konsumsi domestik, menarik lebih banyak investasi, serta memastikan kebijakan fiskal ditransmisikan dengan efektif untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
5 Hidangan Wajib Imlek 2026 dan Makna Filosofisnya
Pemprov DKI dan Badan Gizi Nasional Perkuat Kolaborasi Program Makan Bergizi Gratis
Rieke Diah Pitaloka Desak Pemerintah Segera Reaktivasi 120 Ribu Peserta BPJS Kesehatan yang Dinonaktifkan
Nadiem Klaim Kesaksian LKPP Bantah Dakwaan Kerugian Negara Rp2,1 Triliun