Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (9/2/2026) lalu, suasana sempat hening. Bambang Hadi Waluyo, mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Direktorat SD Kemendikbudristek, tampak mencari kata-kata. Sidang lanjutan kasus korupsi proyek Chromebook itu kembali menyoroti sebuah nama: Jurist Tan, mantan staf khusus Nadiem Makarim yang kini buron.
Bambang hadir sebagai saksi untuk membela mantan Mendikbudristek, Nadiem. Pertanyaan dari tim pengacara Nadiem berputar pada awal penunjukannya sebagai PPK di tahun 2020. Apakah ada paksaan dari Jurist Tan?
"Ketika Bapak diangkat menjadi PPK, kenapa Bapak tidak menolak? Apakah ada paksaan dari Bu Jurist Tan harus ikut, harus jadi?" tanya pengacara itu.
"Jadi saat itu melekat pada jabatan," jawab Bambang, singkat.
Pengacara mencoba memastikan lagi. "Ketika Bapak menerima, Bapak ikhlas menerimanya? Tidak dipaksa Bu Jurist Tan ya?"
"Itu nggak ada kaitannya Jurist Tan," timpal Bambang.
Namun begitu, pertanyaan berikutnya justru mengungkap hal lain. Saat ditanya apakah ia takut pada sosok Jurist Tan, Bambang terdiam. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang cukup berbicara.
"Bapak takut tidak dengan Bu Jurist Tan?" desak pengacara Nadiem, mengulangi pertanyaannya.
Bambang akhirnya mengaku. "Takut."
Alasannya? Rupanya, ketakutan itu bersifat kolektif. "Secara nggak langsung takut karena pejabat-pejabat struktural saya juga... 'Ini menurut Bu Jurist Tan. Menurut...'," ujarnya, menjelaskan bagaimana atmosfer ketakutan itu meresap di lingkungan kerjanya dulu.
Ketika pengacara memotong dan menanyakan kembali secara langsung, jawabannya tetap sama: "Takut."
"Takut. Kenapa?" tanya pengacara.
"Takut (dianggap) nggak melaksanakan perintah," ujar Bambang polos. Sebuah pengakuan yang menggambarkan kuatnya pengaruh Jurist Tan kala itu.
Kasus Chromebook sendiri telah menetapkan Nadiem sebagai terdakwa. Dugaan kerugian negara mencapai angka fantastis, Rp 2,1 triliun. Sementara Jurist Tan, yang disebut-sebut memiliki pengaruh kuat, masih dicari hingga kini. Kesaksian Bambang di sidang itu setidaknya memberi gambaran tentang dinamika dan tekanan yang mungkin terjadi di balik layar.
Artikel Terkait
Megawati: Keterlibatan Perempuan dalam Pemerintahan adalah Perintah Konstitusi
Manajer Honda Puig Buka Peluang Rekrut Fabio Quartararo di MotoGP 2027
Foto Ridwan Kamil di Underpass Depok Dicopot, Diganti Wajah Pahlawan Lokal
Tawuran di Cibinong Bubar setelah Pelaku Dengar Sirine Polisi